Nasional

Eko Kuntadhi: Persamaan Politik Anies Baswedan dan Donald Trump

Selasa, 31 Januari 2017 – 19.24 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Pegiat sosial media Eko Kuntadhi dalam websitenya menulis tentang adanya kesamaan politik yang dilakukan Anies Baswedan dengan Donald Trump, berikut tulisannya:

Saya menolak pandangan Anies dan kelompoknya ini. Sangat tidak pantas merampas hak politik orang lain dengan mengatasnamakan kitab suci. Kita tidak mau Al Quran dijadikan alasan mereka berbuat tidak adil pada orang lain, apalagi kaum minoritas. Kita tidak rela Al Quran hanya dijadikan slogan untuk memenangkan pertarungan politik.

Di Amerika, ribuan rakyat turun ke jalan memprotes kebijakan Trump yang dianggap rasialis. Pada pokoknya Trump menolak pengajuan visa dari tujuh negara muslim. Hal ini dianggap sebagai penodaan pada semangat konstitusi AS dan azas kesetaraan. Trump juga berikap anti imigran. (Baca: Eko Kuntadhi: Diam Sudah Gak Musim, Inilah Serangan Bahaya Bagi Bangsa)

Rakyat AS malu, negaranya seperti diajak kembali ke jaman kegelapan. AS memang punya sejarah kelam tentang tindakan rasialis ini. Mereka pernah mengenal Ku Kluk Klan, organisasi yang menjunjung superioritas kulit putih dan bermaksud menghapuskan warga kulit hitam, kaum Yahudi dan imigran Asia. Kebiadaban Ku Kluk Klan itu bisa kita saksikan dalam film legendaris Mississippi Burning.

Tapi mereka juga mengenal Marthin Luther King, seorang warga kulit hitam yang berjuang agar AS menjadi masyarakat pluralis. Sampai sekarang kata-kata indah yang diucapkan Marthin Luther dalam pidato bersejarah berjudul ‘I Have a Dream’ masih dikutip orang disana.

Kini di bawah Trump, AS seperti menghidupkan kembali semangat Ku Kluk Klan itu. Sejarah kelam kekejaman KKK dibuka kembali. Tentu saja warga AS malu. Bagaimana mungkin negara dedengkot demokrasi ini justru menjadi pelopor diskriminasi? Trump beralasan kebijakan ini untuk melindungi AS dari teroris. Tapi, dia gebyah uyah, memandang semua muslim adalah potensial teroris.

Bagaimana mungkin menilai seseorang hanya dari agama yang dianutnya? “Trump seperti mengencingi sup yang akan dimakannya sendiri,” ujar eorang pesohor mengutip kata-kata Lyndon Johnson dalam salah satu pidato penerimaan Golden Globe Award.

AS boleh saja memiliki kebijakan menolak memberikan Visa. Tetapi menolak orang masuk ke negaranya hanya karena alasan agama, itu sama saja dengan melecehkan kemanusiaan. Warga AS malu negaranya kini punya pola pikir yang mengedepankan prasangka. Saat ini jutaan orang di AS melakukan demonstrasi membela hak-hak kaum muslim. (Baca: Tanda Tangan Rasis Terbaru Presiden AS Donald Trump)

Dengan pandangan Trump ini, apa yang dirasakan umat Islam di Indonesia? Pasti ada perasaan tersingung. Kita marah atas kebijakan diskriminatif itu. Seperti juga sebagian besar rakyat AS malu negaranya menjadi begitu cupet dan rasis. Kita marah karena saudara-saudara muslim kita, yang menjadi minoritas di sana berpeluang diperlakukan tidak adil.

Sama seperti di AS, konstitusi kita juga mengedepankan sikap anti diskriminatif. Semua warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sikap ini sudah ditegaskan oleh para pendiri bangsa ini sejak awal kemerdekaan. Kita bangga dengan keragaman itu.

Tapi rupanya pandangan ala Trump ini ingin juga dihidupkan di Indonesia dalam wajah yang lain. Saya ingat saat wawancara Mata Najwa. Ketika Najwa menanyakan Anies Baswedan apakah dia setuju dengan sikap FPI yang melarang memilih Gubernur non-muslim? Sialnya, Anies yang pernah memperkenalkan istilah ‘merajut tenun kebangsaan’ ini, dengan tegas menyatakan setuju dengan pandangan FPI itu. (Baca: NU Rapatkan Barisan Hadapi Radikalisme Berkedok Agama yang Semakin Marak)

Anies adalah seorang Calon Gubernur. Jika terpilih dia akan menjalankan amanah konstitusi. Bagaimana mungkin pandangannya bisa bertentangan dengan konstitusi? Bagaimana mungkin dia bersetuju penilaian seseorang hanya berdasarkan agama yang dianutnya? Apakah rayuan jabatan gubernur telah membuat dia merusak tenun kebangsaan yang pernah diperkenalkannya?

Tapi di sinilah kita sekarang berdiri. Di sebuah persimpangan masa depan kebangsaan. Pilkada DKI ini menjadi ujian kedewasaan bernegara. Sebetulnya tidak masalah jika kita tidak memilih Ahok sebagai Gubernur, karena tidak setuju dengan kebijakannya. Tapi menolak Ahok hanya karena agama dan kesukuannya itu sama artinya kita sedang menggali kuburan kebangsaan kita. Sama artinya kita sedang menghidupkan ‘Ku Kluk Klan’ di negeri ini.

Saya menolak pandangan Anies dan kelompoknya ini. Sangat tidak pantas merampas hak politik orang lain dengan mengatasnamakan kitab suci. Kita tidak mau Al Quran dijadikan alasan mereka berbuat tidak adil pada orang lain, apalagi kaum minoritas. Kita tidak rela Al Quran hanya dijadikan slogan untuk memenangkan pertarungan politik. (Baca: HTI, PKS, Wahabi Sebarkan Isu Anti Nasionalisme-Toleransi Untuk Hancurkan NKRI)

Masyarakat yag sehat adalah masyarakat yang menilai orang dari apa yang dilakukannya. Dari prestasi-prestasinya. Dari konsistensi dan kejujurannya. Singkatnya nilai hidup seseorang dilihat dari sejauh mana dia bermanfaat bagi orang lain.

Kita sepakat apa yang dikatakan Gus Dur, “Jika kamu berbuat baik pada orang lain, orang tidak akan bertanya apa agamamu.”

Jika Anies berkoar-koar ingin membangun Jakarta dengan titik tekan pada pembangunan manusia, lantas manusia seperti apa yang akan dibangun dengan cara pandang seperti ini? Apakah dia akan menularkan kepicikan politiknya untuk membangun manusia Jakarta nanti? Apakah dia akan menciptakan manusia Jakarta yang punya pandangan diskriminatif?

Ketika Anies terkena pergantian menteri, saya termasuk orang yang diam-diam tidak setuju dengan kebijakan Jokowi. Kini, setelah tahu pandangannya, saya mungkin orang yang paling setuju. Cara pandang seperti ini sangat berbahaya jika dimiliki seorang menteri pendidikan.

Juga sangat berbahaya jika dimiliki seorang Gubernur.

Semoga rakyat Jakarta tidak mengalami seperti yang dirasakan rakyat AS sekarang. Mereka malu punya Presiden yang rasialis dan diskriminatif!

Kita tidak ingin seperi anak monyet. Saat di sekolah dia ditanya ibu gurunya, siapa bapakmu? Dia tertuntuk malu dan menjawab dengan suara lirih. “Bapakku monyet, bu…”. (SFA)

Sumber: ekokuntadhi

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: