Fokus

Eko Kuntadhi: Pakde Jokowi Saatnya Bersih-bersih Benalu dan Parasit NKRI

Jum’at, 19 Mei 2017 – 19.44 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Tulisan menarik dari tokoh media sosial Eko Kuntadhi yang menulis betapa mengerikannya kelompok radikal sudah memasuki berbagai lini di institusi pemerintah dan tempat-tempat strategis, inilah pesan Eko Kuntadhi kepada Jokowi saatnya Pakde bersih-bersih parasit dan benalu NKRI, berikut tulisannya:

Masuklah ke sebuah kantor pemerintahan. Ngobrolah dengan pegawai disana secara intens. Lihat dan teliti sikap keagamaan sebagian dari mereka. Anda akan kaget, jika mendapati ternyata virus sikap beragama garia keras sudah begitu merasuk ke tubuh birokrasi kita. (Baca: Kelompok Radikal “Rampok Kampus-kampus Sekuler” di Indonesia)

Saya pernah menyaksikan poster di sebuah masjid BUMN, yang isinya pengumuman pengajian. Siapa penceramahnya? Felix Siauw! Bayangkan sebuab masjid di area perusahaan negara mengundang seorang pendukung khilafah untuk memberikan ceramah. Ini sama dengan hakim yang juga getol menyebarkan kultwitnya Felix.

Kita juga pernah dengar ada PNS di Batam yang berniat pergi ke Syuriah bergabung dengan ISIS. Ini PNS yang bekerja untuk negara, justru dalam hatinya membenci negaranya sendiri.

Kantor-kantor pemerintahan menjadi salah satu sarang beredarnya paham radikal. Demikian juga dengan BUMN dan BUMD. Dulu TVRI, stasiun TV milik pemerintah, pernah menjadi televisi yang menyiarkan acara HTI secara langsung.

Itu adalah TV publik. Operasionalnya dibiayai oleh duit rakyat. Tapi ternyata digunakan untuk menyiarkan acara organisasi yang tujuannya mengubah dasar negara Indonesia. Betapa absurdnya bangsa ini. Untung saja sekarang pemerintah lebih tegas. HTI dibubarkan dengan Perpu.

Bukan hanya TVRI, tokoh-tokoh yang sering menyebarkan paham radikal juga rajin tampil di TV swasta. Apalagi menjelang Ramadhan nanti. Ustad-ustad politik akan menceramahi masyarakat dengan caranya masing-masing. (Baca: Petisi Anak Negri, TVRI Jadi Corong Doktrin Anti NKRI Oleh HTI)

Di sekolah, guru-guru juga mulai keranjingan cara beragama yang penuh simbol-simbol. Mereka mengajarkan anaknya paham keagamaan yang anti toleransi.

Awalnya memang cuma intoleran, lama kelamaan mendekati radikal. Jangan kaget jika relasi sosial anak-anak kita semakin kacau. Perbedaan agama menjadi penghalang mereka bersosialisasi dengan rekan sebayanya.

Ini bukan sekolah Islam saja. Tetapi juga melanda sekolah-sekolah umum. Perbedaan makin asing. Kebersamaan makin jarang ditemui.

Artinya kemanapun kita menoleh, yang kita temui adalah berkecambahnya paham keagamaan yang eksklusif. Anti toleransi dan cenderung merasa benar sendiri. Yang menyedihkan organ-organ negara seperti birokrasi, pegawai negeri, guru, adalah kelompok yang banyak terjaring virus ini dan aktif menyebarkannya.

Kemarin bersama dengan tokoh lintas agama Pak Jokowi menyerukan dan mengimbau lagi soal toleransi sambil mengertak kekuatan anti Pancasila. Presiden menyatakan dengan tegas bahwa hukum akan diterapkan tanpa pandang bulu. (Baca: Denny Siregar: Kita yang Durhaka Kepada Pancasila)

Tapi ini bukan lagi soal bulu. Virus-virus itu sudah lama dibiarkan berkecambah justru di pohon utama penyenggara negara. Mereka seperti benalu yang makan dari pohon utama negara justru dengan tujuan mematikan induknya. Menyedihkan.

Saya rasa sudah saatnya negara kembali berbenah membersihkan dirinya dari kekuatan radikal yang menempel di tubuhnya sendiri. Ideologi negara harus kembali digaungkan kepada organ-organ birokrasi, pendidik, aparat hukum dan semua elemen yang kehadirannya justru sebagai representasi negara.

Jangan malah orang yang harusnya mewakili wajah negara justru aktif menyebarkan virus intoleran, anti kebhinekaan, anti Pancasila bahkan berniat mengubah dasar negara. Itu sama saja dengan air susu dibalas dengan air tuba lantas disiram air keras.

Departeman Agama harus difungsikan lebih jauh. Lembaga ini tidak cukup jika hanya menjadi organisasi pengurus perjalanan haji. Sangat disayangkan jika lembaga pemerintahan urusannya cuma mirip agen travel.

Menurut saya fungsi paling penting Departemen Agama adalah memastikan bahwa tafisr bergama dalam masyarakat selaras dengan ideologi negara. Depag yang pertama bertanggungjawab jika di masyarakat tumbuh tafsir keagamaan yang justru bertentangan dengan Pancasila.

Sebetulnya ada dua fungsi penting semua organ negara. Fungsi teknis dan fungsi ideologis. Fungsi teknis adalah mereka bekerja dengan bidang dan spesialisasinya masing-masing.

Sementara fungsi ideologis adalah memastikan nilai-nilai penting kebangsaan terus terjaga dalam masyarakat. Artinya selain pencapaian-pencapaian teknis, pencapaian ideologi juga menjadi tujuan semua penyelenggara negara.

Mengapa kaum radikalis bisa eksis terus? Salah satunya adalah karena ada sumber-sumber pendanaan. Juga akses pada pengambilan keputusan. Jika para benalu itu terus menggerogoti dan makin lama makin berkembang, kematian pohon penyangganya tinggal tunggu waktu.

Jadi Pak Jokowi, imbau mengimbau toleransi dan menjaga kebhinekaan saja tidak cukup. Mulailah serius memangkas benalu-benalu itu dari sekarang. Arahkan seluruh kementrian dan lembaga untuk juga menjaga tubuhnya dari parasit penganggu ini.

Anggap saja Pak Presiden sedang berkebun. Untuk menjaga tanaman Indonesia tetap tumbuh indah, rumput keringnya harus dibakar. Paling cuma sapi yang protes kalau rumputnya habis disiangi. Lapaarrr. (SFA)

Sumber: EkoKuntadhi

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: