Eropa

Dua Pejabat Senior UEA Akan Dituntut Atas Kejahatan Perang di Yaman

Rabu, 18 Oktober 2017 – 06.32 Wib,

SALAFYNEWS.COM, PRANCIS – Kampanye internasional untuk memboikot UEA telah mengumumkan bahwa mereka telah memulai serangkaian tindakan hukum untuk memeriksa kemungkinan penangkapan Mohammed Zayed Al-Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi dan Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA dan Hamad Mohammed Thani al-Rumaithi, pimpinan tentara UEA dan Menteri Negara Urusan Pertahanan Mohammed bin Ahmad al-Bawardi dengan latar belakang kejahatan perang yang dilakukan di Yaman.

Baca: Ketabahan Rakyat Yaman Ungkap Kebusukan Saudi, UEA Jadi Budak Israel

Kampanye yang diluncurkan pekan lalu oleh pihak-pihak pembela HAM, aktivis kampanye HAM dan para korban undang-undang diskriminatif UEA tersebut mengumumkan bahwa pada Jum’at pagi lalu (13/10) pihaknya telah bertemu dengan ahli hukum internasional di London untuk membahas kemungkinan langkah hukum untuk menahan pejabat tinggi UEA jika mereka tiba di Inggris.

Kampanye tersebut menambahkan bahwa banyak laporan dan informasi mengenai kemungkinan kejahatan perang yang dilakukan oleh UEA di Yaman. Para ahli hukum ini menekankan bahwa adanya landasan hukum yang kuat yang memungkinkan untuk mengadili pejabat UEA. Kampanye tersebut juga menegaskan bahwa selama seminggu terkahir pihaknya juga telah bertemu dengan para ahli hukum di Paris dan di ibukota Belgia Brussels untuk melakukan tindakan serupa di Eropa dengan mengeluarkan surat perintah penangkapan di beberapa negara Eropa.

Kampanye pemboikotan UEA ini juga mengatakan dalam situs internetnya bahwa “bukti yang disampaikan selama konsultasi dan pertemuan ini telah mewakili dasar prosedur hukum dari insiden terbunuhnya  anak-anak dan orang-orang yang tak berdosa oleh F-16 dan tembakan artileri yang berarti bahwa pejabat UEA tersebut harus menjawab banyak pertanyaan atas apa yang terjadi”.

Baca: Setelah Saudi, UEA Beli Senjata Senilai 1,2 Miliar Dolar AS Untuk Sikat Yaman

Kampanye ini juga menyertakan salinan laporan, foto dan dokumen yang mengungkapkan praktik UEA d Yaman selatan yang mencakup korban-korban penyiksaan dan penghilangan paksa. Kampanye ini juga akan mengajukan keluhan kepada Polisi Anti Teror Inggris (SO15) yang bertanggung jawab dalam memeriksa semua tuduhan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, genosida dan penyiksaan. Surat perintah tersebut akan diajukan berdasarkan bagian nomor 1(4a) dari UU tentang pengadilan distrik tahun 1980.

Perlu dicatat bahwa PBB menempatkan koalisi Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi dan UEA di Yaman dalam daftar hitam negara-negara yang melakukan kejahatan terhadap anak-anak, menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh Organisasi Internasional pada kamis lalu. Resolusi ini meminta Komisioner Tinggi PBB untuk HAM agar membentuk sebuah komite ahli internasional dan regional setidaknya selama satu tahun untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh atas dugaan pelanggaran HAM oleh semua pihak yang terlibat dalam konflik Yaman sejak September 2014.

Pekan lalu di ibukota Paris, Perancis, telah diumumkan tentang sebuah kampanye internasional untuk memboikot UEA. Pernyataan tersebut mengatakan bahwa sekelompok aktivis HAM telah meluncurkan sebuah kampanye anti-UEA dalam sebuah diskusi intelektual yang dilaksanakan selama dua hari yang dihadiri oleh sekelompok pembela HAM, aktivis kampanye HAM dan korban-korban hukum diskriminatif UEA.

Baca: TERBONGKAR! Dokumen Kesepakatan Jutaan Dolar UEA dan AS Sewa Tentara Bayaran di Yaman

Kampanye tersebut yang disebut sebagai kampanye boikot internasional terhadap UEA (ICBU) mengatakan bahwa pihaknya telah memulai kegiatannya pada 15 Oktober lalu, dan kelompok-kelompok aktivis telah dibentuk di Paris, Brussels, Berlin, London Roma, Madrid dan New York untuk ikut serta dalam kampanye tersebut. Kampanye ini menambahkan bahwa kelompok-kelompok aktivis di negara lain juga  akan berpartisipasi dalam kampanye tersebut dan mereka semua akan bekerja di bawah sekretariat umum kampanye anti-UEA tersebut.

Kampanye boikot EUA tersebut diluncurkan bersamaan dengan pelanggaran HAM yang dilakukan tanpa henti oleh UEA, di samping kejahatan perang di Yaman dan pelanggaran hak-hak para pekerja serta pusat perbudakan modern. Uni Emirat Arab saat ini dituduh sebagai salah satu negara yang memimpin perdagangan manusia dan pencucian uang dan merupakan negara pendukung utama kelompok teroris di Suriah dan negara Timur Tengah lainnya. (SFA)

Sumber: Al Masdar

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: