Headline News

Doha: Kwartet Pimpinan Saudi Ingin Ubah Qatar Jadi Negara Perwalian

Selasa, 12 September 2017 – 06.39 Wib,

SALAFYNEWS.COM, DOHA – Qatar mengatakan blokade “ilegal” yang diberlakukan atas negaranya oleh kuartet negara-negara yang dipimpin Saudi bertujuan untuk memaksa negara Teluk Persia itu menjadi “negara perwalian”.

Baca: Menlu Qatar: Blokade yang Dipimpin Arab Saudi Merongrong Upaya Mediasi

Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menyampaikan ucapan tersebut dalam sebuah pidato di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia PBB di kota Jenewa, Swiss, Senin, dengan mencela “pengepungan ilegal yang jelas-jelas melanggar hukum internasional.”

Keretakan yang melebar di wilayah tersebut terjadi pada 5 Juni, ketika Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir memutuskan hubungan dengan Qatar, yang secara resmi menuduh Doha mendukung “terorisme” dan mendestabilisasi Timur Tengah. Sementara Qatar mengatakan bahwa tuduhan tersebut tidak dapat dibenarkan dan berasal dari klaim dan asumsi palsu.

“Bukan rahasia lagi bahwa motif sebenarnya di balik pengepungan dan pemutusan hubungan diplomatik dengan negara Qatar tidak ditujukan untuk memerangi terorisme,” tambah diplomat papan atas Qatar, Senin (11/09).

Baca: The Guardian Bongkar Rahasia Asal Muasal Konflik Qatar

Al Thani mencatat bahwa tuduhan negara-negara pengepung adalah untuk “memaksa Qatar memasuki negara perwalian untuk mencampuri kebijakan luar negerinya, untuk merongrong kedaulatannya dan untuk mencampuri kebijakan domestiknya.” Dia juga memperingatkan bahwa Doha “tidak dapat mentolerir situasi ini.”

Namun, dia menyatakan kesiapan negaranya untuk berdialog dengan negara-negara yang mengepungnya dalam upaya untuk mengakhiri krisis. “Kami bersedia untuk berbicara dengan mereka, kami siap untuk terlibat jika didasarkan pada prinsip, yang tidak melanggar hukum internasional dan menghormati kedaulatan masing-masing negara,” tambahnya.

Komentar Al Thani datang hanya sehari setelah rekannya dari Saudi, Adel al-Jubeir, mengancam bahwa Doha akan menghadapi tekanan lebih besar jika tidak mematuhi daftar tuntutan pengepungan yang dibuat pada bulan Juni.

“Kami telah mengambil beberapa tindakan dan kami akan terus melakukannya dan kami akan mempertahankan posisi kami sampai Qatar merespons,” dia memperingatkan, dan menambahkan bahwa Qatar “harus menanggapi permintaan ini untuk membuka halaman baru,” kata al-Jubeir lebih lanjut pada konferensi pers bersama dengan rekannya dari Rusia, Sergei Lavrov, di kota pelabuhan Arab Saudi, Jeddah, Ahad.

Sejumlah upaya untuk menyembuhkan keretakan sejauh ini telah dilakukan, namun semuanya sia-sia, termasuk Sekretaris Negara AS Rex Tillerson, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Emir Kuwait Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah, yang telah memainkan peran sebagai mediator kunci sejak awal krisis.

Baca: Abaikan Tuntutan Saudi, Qatar Pererat Hubungan dengan Iran

Langkah terkoordinasi melawan Doha dipelopori oleh Riyadh, yang seringkali berhasil membuat negara-negara bawahannya terjerembab. Arab Saudi sendiri dikenal sebagai sponsor utama teroris Wahhabi yang menuduh Qatar mendukungnya. Beberapa analis percaya bahwa kemarahan Saudi karena Qatar bertindak independen dari Riyadh, termasuk dalam hubungannya dengan Iran. (SFA)

Sumber: PTV

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: