Artikel

Dina Sulaeman: Aksi Bela Palestina Atau Teroris?

Aksi 115

JAKARTA – Pengamat Timur Tengah, Dina Sulaeman menjelaskan fakta dibalik aksi Bela Palestina (11/05) yang diselenggarakan oleh Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis, yang diketuai oleh Bachtiar Nasir. Seperti kita ketahui bersama bahwa Bachtiar Nasir dengan bendera IHR juga telah mengirimkan bantuan untuk teroris di Suriah, lantas apakah kita percaya kepada mereka, aksi bela Palestina atau bela teroris, berikut ulasannya:

Baca: Kapolri Ungkap Aliran Dana dari Bachtiar Nasir Diduga untuk Kelompok Pro ISIS di Turki

AKSI BELA PALESTINA, ATAU BELA TERORIS?

Saya sudah menulis ratusan, mungkin ribuan, artikel soal Suriah (saya menulis pertama kali tentang konflik Suriah Desember 2011, sekarang Mei 2018). Dan sering saya sampaikan: ada Israel di balik agenda penggulingan Assad.

Ini bukan teori konspirasi karena saya mengajukan bukti. Teori konspirasi itu kalau didasarkan khayalan, mencocok-cocokkan.

Antara lain buktinya adalah dokumen-dokumen CIA yang declassified (sudah boleh diakses publik) yang isinya rencana AS sejak tahun 1980-an untuk menggulingkan pemerintah Suriah demi Israel. Ada pula email Hillary Clinton yang dirilis Wikileaks (Maret 2016). Tertulis di dalam email itu, “Hubungan strategis antara Iran dan rezim Bashar Assad membahayakan keamanan Israe“. (baca buku Salju Di Aleppo)

Baca: Jaringan Terorisme Global Ancam Indonesia

Bukti lainnya adalah perilaku Israel selama konflik Suriah. Bila benar Israel adalah negara demokratis dan antiteroris (demikian kata fans Israel, terutama ZSM Indonesia), mengapa mereka tidak membombardir Golan saja, dimana banyak teroris ISIS dan Al Nusra, bercokol? Mengapa yang dilakukan Israel justru membombardir tentara Suriah yang hampir mengalahkan teroris, lalu merawat para teroris yang terluka di rumah sakit Israel, bahkan dibesuk oleh Netanyahu?. (Israel ‘giving secret aid to Syrian rebels’, report says)

Suriah adalah negara yang frontal melawan Israel. Selain mensuplai logistik ke Palesina, Suriah juga memberikan perlindungan kepada Hamas (milisi perjuangan kemerdekaan Palestina). Saat negara-negara Arab tak mau menerima Hamas (karena takut pada AS-Israel), Suriahlah yang menerima dan memberikan kesempatan kepada Hamas untuk berkantor di Damaskus.

Kemudian, sebagian elit Hamas berbalik melawan pemerintah Suriah dan mendukung “mujahidin”. Lihat di foto, pimpinan Hamas, Ismail Haniyeh mengibarkan bendera “mujahidin”/teroris Suriah (hijau-putih-hitam bintang 3).

“(Bendera yang sama yang juga pernah dikibarkan oleh lembaga-lembaga donasi yang aktif mengumpulkan dana untuk Suriah. Donasi untuk korban perang tentu baik. Tapi bila itu dilakukan dengan menggunakan narasi palsu, seperti “rezim Syiah membantai warga Sunni Suriah”, disertai foto-foto palsu (misalnya anak berdarah-darah korban tentara Israel di Gaza disebut sebagai korban pembantaian oleh Assad), serta video hoax buatan White Helmets, tentu amat wajar bila publik mempertanyakan: uang sumbangan rakyat Indonesia itu diberikan ke siapa?)”.

Baca: Fakta Bachtiar Nasir Bantu Teroris Suriah

Perubahan sikap Hamas ini dilatarbelakangi ideologi keagamaan mereka, yaitu Ikhwanul Muslimin. Mereka lebih memilih bergabung bersama jaringan IM transnasional (yang sedang punya misi menggulingkan Assad), daripada fokus pada perjuangan memerdekakan tanah airnya sendiri.

Tentu saja, akhir-akhir ini Hamas menunjukkan penyesalan dan menyatakan akan fokus pada urusan dalam negeri saja, lalu berupaya kembali mendekati Iran (yang sejak pengkhianatan Hamas telah menghentikan bantuan dana; padahal Hamas sangat butuh dana itu untuk mengelola pemerintahan di Gaza).

Karena yang angkat senjata di Suriah sebagian besarnya adalah anasir IM, plus Hizbut Tahrir, ISIS, dan Al Qaida (jadi, “mujahidin” alias teroris di Suriah itu banyak faksi, tapi ideologi dasarnya sama), dan semua ormas itu punya cabang di Indonesia, tak heran bila orang Indonesia berisik sekali soal Suriah (dengan narasi yang salah).

Baca: PKS Ikhwanul Muslimin Indonesia Berfaham Aliran Sesat Wahabi

Radikalisme dan terorisme yang marak akhir-akhir ini di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari maraknya narasi intoleran, hatespeech, dan fitnah yang disebarkan dalam upaya penggalangan dana dan rekrutmen petempur untuk “jihad” di Suriah.

ANEHNYA: kemarin, tiba-tiba saja, orang-orang yang sama, yang selama 7 tahun terakhir heboh sekali melakukan manipulasi informasi soal Suriah justru menggagas AKSI BELA PALESTINA.

Halooo?? Bela Palestina, tapi selama 7 tahun terakhir berperan penting dalam penghancuran pendukung utama Palestina, Suriah? Betapa kontradiktifnya!

Selain itu, bisa dilacak, sejak 2014, kelompok ini pula yang suka menggunakan isu SARA untuk politik dalam negeri. Mereka kemudian bikin film, berkeras menyatakan ini film soal cinta, padahal jelas konteks kelahiran karya ini adalah aksi bela ini-bela itu yang sejatinya demi pertarungan politik domestik.

Di sinilah pentingnya pemahaman geopolitik global, biar tak mudah dibodoh-bodohi oleh segelintir elit domestik yang membawa narasi sektarian demi agenda politik. Juga biar nyambung, saat saya mengaitkan Suriah dan kondisi politik dalam negeri, atau dengan film tertentu.

Pembelaan terhadap Palestina adalah amanah UUD kita. Tapi, mari bela Palestina dengan pemahaman yang utuh. Jangan sampai merasa sedang bela Palestina, eh, ternyata yang dibela malah teroris. (SFA)

Sumber: Fanpage Facebook Dina Sulaeman

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Analis: Ada Israel Dibalik Kekacaun Indonesia | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: