Fokus

Densus 88 Kirim Tim ke Filipina Terkait WNI Istri Petinggi ISIS

Selasa, 07 November 2017 – 14.52 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Tim Densus 88 akan berkordinasi dengan otoritas Filipina terkait penangkapan Minhati Madrais, warga Indonesia yang ditangkap bersama enam anaknya.

Baca: Istri Petinggi Teroris ISIS Asal Indonesia Ditangkap Polisi Filipina

Kepolisian Indonesia, Selasa (07/11), dijadwalkan akan mengirim tim Densus 88 ke Filipina untuk berkordinasi dengan otorita Filipina terkait penangkapan Minhati Madrais, istri Omarkhayam Maute, salah seorang pemimpin kelompok militan Islam di Marawi, Filipina Selatan, yang tewas dalam baku tembak dengan militer.

“Karena dia adalah warga negara Indonesia tentunya Kementerian Luar Negeri yang akan menjadi vocal point dalam perlindungan warga negara Indonesia tapi Densus 88 akan melihat dari sisi keterkaitan yang bersangkutan dengan aksi-aksi terorisme selama ini,” jelas Kepala Duvisi Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto kepada wartawan BBC Indonesia, Liston P Siregar.

Aparat keamanan Filipina menangkap Minhati Madrais di Ilagan City, ibu kota Provinsi Isabela, di Pulau Luzon, Filipina utara, bersama keenam anaknya, Minggu (05/11).

Baca: Istri Petinggi ISIS yang Ditangkap di Filipina Putri KH Madrais Babelan

Hingga saat ini Kepolisian Indonesia masih belum mengetahui dakwaan yang diajukan kepada Madrais.

“Kita ingin melihat, mendengar, menjajaki sampai sejauh mana keterkaitan istri Omarkahayam Maute ini dan peran dia dalam aksi-aksinya Maute bersaudara selama ini.”

Irjen Setyo Wasisto menambahkan selama ini hanya diketahui bahwa salah seorang Maute bersaudara memiliki istri yang merupakan warga Indonesia namun identitasnya belum bisa dikukuhkan.

“Kemarin setelah ada penangkapan dari otorita Filipina, mereka mendapatkan paspornya yang kadaluwarsa, jelas identitasnya, baru kita tahu.”

Bertemu di Kairo

Omarkhayam Maute dilaporkan bertemu dengan Minhati Madrais tahun 2008 saat keduanya berstatus sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Setelah menikah, keduanya sempat bermukim di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi selama dua tahun sejak 2010. Madrais diketahui merupakan putri pimpinan pondok pesantren Darul Amal di Babelan, KH Madrais Hajar.

Baca: Militan Asal Indonesia Ditangkap di Marawi

Oleh mertuanya, Omarkhayam kemudian diminta menjadi guru di pondok pesantren Darul Amal namun selang dua tahun kemudian, Omarkhayam mengajak istrinya ke Filipina.

Panglima Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Eduardo Ano, saat mengumumkan kematian Isnilon Hapilon dan Omarkhayam Maute, 16 Oktober lalu.

Suami Madrais, Omarkhayam Maute -menurut tentara Filipina- tewas Senin (16/10) lalu dalam operasi militer di Marawi -sekitar satu jam penerbangan dari Ilagan City.

Dia merupakan satu dari Maute bersaudara yang memimpin satu kelompok militan yang menyatakan kesetiaan kepada kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS di Asia Tenggara dan sempat menguasai Marawi selama sekitar lima bulan.

Sebagian kota Marawi hancur berantakan akibat perang antara aparat keamanan Filipina dan kelompok militan Islam.

Enam anak Madrais -asal Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat- dari perkawinan dengan Omarkhayam Maute dilaporkan akan ditangani oleh Departemen Kesejahteraan Sosial setempat.

Rabu (01/11) pekan lalu aparat keamanan Filipina menangkap seorang warga Indonesia, Muhammad Ilham Syahputra -yang diduga anggota kelompok Maute- di Marawi.

Tewasnya Omarkhayam dan pemimpin ISIS Asia Tenggara, Isnilon Hapilon, pada tanggal 16 Oktober lalu menjadi dasar dari pernyataan Presiden Rodrigo Duterte tentang bebasnya Marawi dari kelompok militan.

Sekitar 500 militan Islam -beberapa berasal dari luar negeri, termasuk Indonesia- berhasil merebut sebagian kota Marawi pada tanggal 23 Mei dan sejak saat itu diperkirakan 1.000 orang tewas dan 400.000 jiwa mengungsi dalam perang untuk merebutnya kembali.  (SFA)

Sumber: Tempo

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: