Fokus

Densus 88 Anti Teror Tangkap Jaringan Bom Panci Cicendo Bandung

Selasa, 14 Maret 2017 – 00.04 Wib,

SALAFYNEWS.COM, BANDUNG – Polisi menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat jaringan teroris Cicendo Bandung yang menewaskan pelaku peledakan bom panci, Yayat Cahdiyat. Salah satunya, Agus Sutano alias Agus Muslim alias Abu Muslim, yang ditangkap Tim Densus 88 di kawasan Kebon Gendang, Kecamatan Batunungal, Kota Bandung. Peran Agus diduga sebagai perakit bom panci.

“Dia (Agus) sebagai pembuat bom dengan Yayat alias Abu Salam yang meledak di Cicendo pada 27 Februari 2017,” kata Kabidhumas Polda Jabar Kombes Pol Yusri Yunus, Senin (13/3).

Penangkapan terhadap Agus berlangsung di Gang Libra, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, pada Selasa (7/3) lalu. Polisi lalu mendatangi tempat indekos Agus di Jalani Jalan Kebon Gedang 9 RT 01/09 Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Senin (13/3).

Polisi menyita barang bukti di antaranya dua botol pembersih lantai, telepon genggam, satu sangkur merek RAMBO, dan beberapa buku berjudul ‘Tamasya ke Surga’, ‘Husnul Mujahid’, dan satu bundel buku berjudul ‘Strategi Perang’. (Baca: Inilah Misteri Kelompok Khilafah Anti NKRI Serang Densus 88 dan NU)

Usai menangkap Agus, polisi meringkus satu terduga teroris Soleh Abdurrahman alian Gungun alias Abu Fursan (38) di Gang Ishak Wijaya, Kelurahan Sukahaji, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, pada Kamis (9/3) lalu. Lokasi penangkapan berada di dekat kediaman Soleh, Gang Bahpian, RT 9 RW 6, Kelurahan Sukahaji, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung.

“Soleh ini berperan sebagai orang yang mendanai aksi bom panci di Cicendo,” ujar Yusri.

Yusri menambahkan, bersamaan hari penangkapan Soleh, polisi mengamankan istri Yayat yaitu Cucu. “Kami masih terus mengungkap jaringan teroris ini,” ucap Yusri.

Sita Senapan

Usai menggeledah rumah terduga teroris jaringan bom Cicendo, Soleh alias Gungun, polisi menyita sejumlah barang dari kediaman pria yang berprofesi pedagang susu murni itu.

Proses penggeledahan berlangsung satu jam lebih atau pukul 09.20 WIB hingga pukul 10.30 WIB di tempat tinggal Soleh, Gang Bahpian, RT 9 RW 6, Kelurahan Sukahaji, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Senin (13/3/2017). (Baca: Kapolri: Pelaku Bom Panci Cicendo Bandung Anggota Jaringan JAD)

Ketua RT 9 Suhendra dan Ketua RW 6 Asep Juheri menyaksikan langsung penggeledahan dilakukan personel gabungan dari Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Polda Jabar dan Polrestabes Bandung.

“Tadi barang-barang disita polisi diantaranya satu senapan angin, buku, dan toples. Kalau bukunya tadi saya enggak perhatikan”, ujar Suhendra usai proses penggeledahan.

Menurut Suhendra, senapan angin laras panjang bercat hitam itu ditemukan polisi di salah satu kamar rumah Soleh. Sewaktu geledah, sambung dia, ada dua istri Soleh dan satu anaknya yang masih balita. “Kalau Pak Soleh itu ditangkapnya Kamis (9 Maret) lalu di daerah sini,” ujar Suhendra.

Polisi membawa barang-barang tersebut menggunakan plastik. Kabidhumas Polda Jabar Kombes Pol Yusri Yunus menyebutkan penggeledahan rumah Soleh itu berkaitan kasus bom Cicendo yang menewaskan pelaku teror, Yayat Cahdiyat, pada Senin (27/2) lalu. (Baca: Surat ‘Ancaman’ Terbuka Pendukung Daulah Islamiyah kepada Pemerintah, TNI, Densus, BNPT, DPR, MPR)

Dua Istri Soleh

Dua perempuan bercadar dibawa polisi dari kediaman terduga teroris, Soleh alias Gungun. Polisi menggeledah rumah Soleh guna kepentingan pengusutan jaringan bom panci di Cicendo.

“Tadi dua istri Soleh dibawa polisi untuk dimintai keterangan”, kata ketua RT 9 Suhendra usai menyaksikan langsung penggeledahan. Menurut Suhendra, Soleh dan keluarganya tersebut sudah enam tahun tinggal di kawasan tersebut. Soleh diringkus polisi pada Kamis (9/3) lalu di dekat kediamannya.

“Kalau penggeledahan tadi, enggak ditemukan bahan peledak. Saya lihat polisi menyita senapan angin, buku dan toples,” ujar Suhendra. (Baca: Polri: Pelaku Bom Panci di Bandung Kumpulkan Dana dengan Merampok)

Targetkan Polda Jabar

Polisi menyimpulkan motif terduga teroris bom panci Bandung, Yayat Cahdiyat, adalah balas dendam karena teman-temannya ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

Sehingga, anggota jaringan kelompok Jemaah Ansharut Daulat (JAD) yang terafiliasi ISIS itupun menetapkan kantor polisi sebagai target utama.

“Ini aksi balas dendam. Ada beberapa target sebagai sasaran aksi (teror). Polda Jabar, Polres Cianjur, Polres Cianjur, pos lalu lintas di Buah Batu dan Gegerkalong”, papar Kadiv Humas Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar di kantornya, Jakarta, Senin (13/3).

Menurut Boy, kesimpulan ini diperkuat dengan keterangan Yayat yang menuntut polisi temannya dilepas dari tahanan Densus 88. Tepatnya, sesaat sebelum Yayat dilumpuhkan dalam serangan bom panci di Bandung, beberapa waktu lalu.

“Aksi yang mereka tunjukkan dengan melakukan serangan balik ke markas petugas. Jadi, jangan anggap peristiwa ini rekayasa. Ini adalah kelompok teroris anggota JAD,” tegas alumni Akpol 1988 itu.

Dalam proses pengungkapan kasus ini, Densus 88 telah mengamankan dua tersangka lainnya, Agus Sujatno alias Abu Muslim dan Soleh alias Gungun.

Keduanya diamankan tanggal 7 Maret lalu dan telah ditetapkan tersangka. Keterlibatan keduanya dalam aksi tersebut, mulai dari pendanaan, survei lokasi hingga perakitan bom panci yang dieksekusi Yayat.

Di Kampung Inggris

Di hari yang sama, Densus 88 menangkap seorang terduga teroris di Kabupaten Kediri Jawa Timur. Seorang terduga teroris tersebut adalah Mahbub (35) asal Jalan Hanjala 10 A Tuweley Baolan Toli toli Sulawesi Tengah.

Pelaku ditangkap di pinggir jalan di dusun tegalsari Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri atau lebih tepatnya di Jalan Asparaga Kampung Inggris.

Berdasar informasi yang dihimpun dilapangan, sekitar pukul 10.30 wib, Mahbub mengikuti pelajaran bahasa Arab di Kursusan Al-Asriyyah di Jalan Asparaga Rt.02 Rw 15 Dusun Tegal Sari Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri.

Sebelumnya densus 88 sudah melakukan penyelidikan dan pulbaket terhadap tersangka yang berada di Kampung Inggris. Pelaku diketahui belajar bahasa Arab dan bahasa Inggris sejak awal Februari 2017.

Dan sekitar pukul  10.45 WIB saat Mahbub keluar dari kursusan bahasa Arab Al-Asriyyah naik sepeda ontel (pancal) menuju arah barat tepatnya di sebelah timur pos Brigadir kampung Inggris Jalan  Asparaga. Saat itulah, Densus langsung menangkap, dan Mahbub dimasukkan mobil untuk dilakukan pengembangan kasus. (Baca: Densus 88 Tangkap Terduga Teroris Cicendo di Kawasan Kampung Inggris Pare Kediri)

Sekitar pukul 12.30 WIB Densus 88 melaksanakan penggeledahan di Asrama Putra Kursusan bahasa Arab Al-Asriyyah milik Ibu Laila Nur Shia yang dikontrak oleh Ustadz Moh Lutfi .

Kapolres Kediri AKBP Sumaryono SH. SIK. MH membenarkan penangkapan seorang terduga teroris di wilayah hukumnya. “Kami dari Polres Kediri hanya sekedar membackup penangkapan terduga teroris di wilayah kampung Inggris Pare oleh Densus 88” tutur Kapolres Kediri.

Saat ini terduga teroris dan barang bukti telah dibawa dan diamankan oleh Tim Densus 88. Untuk penanganan selanjutnya akan dilakukan Mabes Polri. Kapolres Kediri juga menghimbau kepada warga manakala ada orang asing atau orang tidak dikenal untuk melapor ke pihak Kepolisian terdekat. (SFA/beritametro)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: