Artikel

Denny Siregar Ungkap Kenapa Ustad Radikal Lebih Laku Daripada Ustad NU

Mendadak Ustadz

JAKARTA – Denny Siregar mengungkapkan bahwa “Kenapa ustad radikal itu lebih laku daripada ustad NU?”. Ini pertanyaan besar dari seorang teman melihat tidak adanya jejak ustad NU muda yang terkenal dan digandrungi banyak orang sekarang ini. Yang ada malah banyak dari HTI.

Baca: Wejangan Gus Dur Terbukti ‘Akan Tiba Saatnya Orang yang Tidak Pernah Belajar di Pesantren Dianggap Alim’

Dan kita coba jawab pertanyaan ini dengan sebuah penggambaran.

Gerak perkotaan yang tumbuh semakin cepat, menciptakan masyarakat yang juga bergerak dengan cepat. Masyarakat urban ini dibentuk oleh situasi dan kondisi kota besar, sehingga mereka punya gaya hidup yang selalu berubah mengikuti trendnya. Semua menjadi serba instan dan mudah didapat.

Perubahan paling jelas terlihat dari perubahan gaya makanan.

Masyarakat kota besar -terutama generasi baby boomer dan milenial- sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk makan dengan makanan nuansa kampung dengan sajian komplit diatas piring.

Mereka sudah terbiasa instan dengan adanya mie dan makanan fastfood seperti burger dan pizza. Pokoknya kalau bisa gak bangkit dari tempat duduknya, itu lebih baik.

Baca: NU: Pesantren Radikal dan Anti NKRI Wajib Dibubarkan

Dan situasi ini diperkuat dengan semakin murah dan mudahnya mengakses internet.

Ketika manusia urban ini memasuki fase rohani, hukum yang berlaku bagi mereka juga sama. Mereka cukup buka internet dan melihat siapa ustad yang terkenal disana.

Mereka juga lebih sering googling untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan dalam benak mereka dan mengamini ketika itu datang dari seorang yang dipercaya sebagai “ustad” oleh banyak orang.

“Banyak” menjadi ukuran kebenaran. Yang dilihat kuantitas jamaah, bukan kualitas ceramah.

Tidak ada lagi diskusi bermalam-malam tentang nilai-nilai. Masyarakat urban hanya butuh fatwa halal dan haram sebagai hukum mereka. Tidak perlu bertanya – apalagi menggunakan logika – kenapa ini haram dan kenapa itu halal.

Baca: Ceramah Blunder Ustad Abdul Somad yang Hina dan Lecehkan Nabi Muhammad

Semua tersedia dalam bentuk kemasan, tinggal buka bungkusnya, panaskan air dan tuangkan, lalu silahkan makan. Persis mie instant.

Dan ustad-ustad radikal sangat mengerti ini. Dengan kuatnya jaringan dan sumber daya mereka -termasuk keuangan- mereka membangun konten-konten ringkas berisi hukum dan fatwa yang disesuaikan dengan kebutuhan jamaahnya.

Mereka juga berani membeli slot-slot acara di televisi yang mahal, supaya bisa menciptakan “penceramah-penceramah” muda dan bisa menguasai teknik berbicara.

Dan acara televisi yang sebenarnya untuk konsumsi kota besar, dikonsumsi pula oleh warga daerah yang sebenarnya “tidak siap makan fastfood”, tapi apa daya daripada dibilang ketinggalan jaman..

Bumbu pedasnya ada di “kontroversial”.

Ketika kontroversial, maka ia akan semakin dipandang dan dicari. Gak penting ilmu yang dalam, cukup seadanya dan hapal beberapa ayat, lalu berjubah, jadilah ia seorang ustad. Makanya banyak mualaf yang tiba-tiba menjadi ustad, karena memang diciptakan. Padahal namanya mualaf ia seharusnya harus lebih banyak belajar daripada mengajar.

Inilah yang menciptakan supply dan demand yang besar. Ada penawaran dan ada permintaan. Semua dibentuk oleh pasar. Siapa yang menguasai pasar, dialah yang menguasai pembeli.

Sedangkan NU lebih rumit bagi mereka…

Ibarat makanan, NU ini adalah makanan kampung yang penuh dengan penyajian dan tidak cepat saji. Kalau ditanya “haram” dan “halal”, ustad-ustad NU lebih banyak memberikan opsi supaya orang bisa berfikir dan menentukan pilihannya sendiri.

NU juga -sebagai kelemahan- gagap terhadap teknologi. Ketika ustad-ustad instan itu sudah menerapkan sistem franchise, orang NU tetap berprinsip “tidak buka cabang”. Orang NU lebih senang hadir di acara-acara pengajian dan duduk mendengarkan ceramah.

Baca: NU Rapatkan Barisan Hadapi Radikalisme Berkedok Agama yang Semakin Marak

Perbedaan model inilah yang menjadi jurang pemisah yang lebar. Ustad NU kurang mendapat perhatian karena sorot lampu tidak tersedia kepadanya, sedangkan ustad instant lebih hidup ketika ada lampu kamera.

Bagaimana solusinya? Kita bicarakan nanti di tulisan kedua, soalnya terlalu panjang.

Selain supaya jangan bosan, di sofa juga kurang enak untuk tiduran. Ini gara-gara kejamnya jejak digital yang mengcapture tulisan “ingin kawin lagi kalau jadi pilot”. (SFA)

Sumber: DennySiregar.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: