Fokus

Denny Siregar: Tolak Gerakan Politik di Tempat Ibadah

Politisasi Masjid

Jakarta – Buya Syafi’i Ma’arif pernah menulis “Tuan dan puan bisa bayangkan, jika dalam khutbah Jum’at diselipkan kampanye politik partai tertentu, pastilah masjid berhenti menjadi tempat yang nyaman, diliputi oleh suasana persaudaraan. Perpecahan di akar rumput akan menjadi sulit dihindari, seperti yang dulu pernah berlaku. Jalan yang paling arif menurut saran saya adalah membebaskan semua masjid dari gesekan politik kepentingan sesaat. Jadikan Rumah Allah ini sebagai tempat teduh dan sejuk buat semua orang beriman, terlepas dari apa pun partai yang didukungnya,” (Masjid dan Kampanyte Politik, Republika). Cukuplah masjid menjadi tempat ibadah dan pembelajaran agama, politik praktis tidak perlu masuk kesana.

Baca: Ketua Alsyami: Politisasi Masjid Awal Kehancuran Timur Tengah

Rasul bahkan pernah memerintahkan, dalam rangka menjaga “kesucian” masjid, dilarang melakukan perniagan di masjid, begitu pula mengumumkan barang yang hilang di dalamnya. Menggunakan masjid sebagai mimbar kampanye politik praktis dikhawatirkan akan menodai kesucian masjid. Sudah sepatutnya umat lebih waspada dan cerdas untuk menggunakan rumah Allah ini sesuai dengan fungsinya, yakni untuk beribadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah, bukan kampanye yang bisa memecah belah.

Inilah ulasan bagus Denny Siregar terkait berbahayanya politisasi masjid.

Pilgub DKI 2017, bisa dibilang adalah salah satu Pilkada paling berbahaya di Indonesia. Bahayanya Pilgub DKI karena agama yang suci dijadikan alat politik kotor, yang bahkan dimobilisasi di tempat-tempat ibadah.

Tempat ibadah yang biasanya menjadi tempat mencari ketenangan, menjadi hiruk pikuk dengan hujatan dan makian, bersamaan dengan lantunan ayat suci dengan tafsir yang dibelokkan.

Baca: Eko Kuntadhi: BAHAYA, Masjid Jadi Ajang Kampanye Politik

Miris rasanya melihat saudara seiman yang meninggal bahkan ditolak untuk dishalatkan karena berbeda pilihan. Dilain tempat, Alquran kitab suci disandingkan dengan golok untuk membaiat salah satu kandidat. Bahkan salah satu kandidat, diusir dari masjid ketika selesai shalat Jumat.

Toa-toa masjid sejak subuh berteriak seolah sedang menghadapi perang. Shalat Jum’at penuh dengan ujaran kebencian dan dilain tempat kata “bunuh dan penggal” disandingkan dengan kata “Allah Maha Besar”.

Polisi seakan tidak berdaya karena massifnya gerakan dimana-mana. Bahkan dewan masjid dan MUI terdiam seakan membiarkan.

Saya bergidik ketika membayangkan masa itu, dimana saya berada ditengah kancah dan menjadi salah satu saksi mata pilkada paling brutal yang pernah saya kenal.

Baca: Politisasi Agama Cara Israel, Teroris & HTI Rampas Hak Orang Lain

Seseorang pernah memaki saya, “Rasulullah saja berpolitik di masjid, itu sesuai tuntunan!!”

Saya heran, tidak ada dalam cerita sejarah manapun Rasullulah Saw menggunakan tempat ibadah untuk menghantam umatnya sendiri. Jikapun beliau mengatur strategi perang didalam masjid, itu karena bertahan sebab ada ancaman serangan dari luar yang membahayakan umatnya sendiri.

Jadi, dapat pelajaran sejarah darimana orang yang memaki saya itu bahwa Rasulullah menjadikan masjid sebagai tempat politik untuk menyerang saudaranya sendiri??

Dulupun pahlawan-pahlawan yang muslim sering menggunakan masjid sebagai tempat berorganisasi. Tetapi itu berkaitan dengan mengatur strategi untuk menghadapi penjajah yang menyerang negeri, bukan untuk memakan bangkai saudara seimannya sendiri.

Pembelokan makna bahwa “masjid bisa dijadikan sebagai tempat berpolitik” ini sangat berbahaya. Statemen ini dikeluarkan oleh orang-orang yang punya nafsu berkuasa tapi tidak mampu bersaing dengan sehat dan akhirnya mengandalkan propaganda.

“Yang penting menang, negeri mau pecah urusan belakangan..”

Gerakan khilafah sedang mengintai situasi di Pilpres 2019.

Mereka akan terus memanfaatkan masjid sebagai tempat memainkan kartu-kartu mereka. Ini yang tidak disadari partai-partai oposisi bahwa mereka sedang ditunggangi. Gelapnya mata karena kekuasaan membuat mereka buta akan dampak kehancuran kedepan.

Baca:Para Ulama Timur Tengah Marah Besar Saat Agama Dipolitisasi Untuk Picu Konflik

Pernah seorang bertanya kepada saya, “Kenapa Tuhan seperti membiarkan Pilgub DKI menjadi begitu keras dan brutal?”

Saya jawab, “Tuhan ingin mengajari kita, bangsa Indonesia, apa yang akan terjadi nanti jika kita hanya diam saja. Tuhan begitu sayang pada negeri ini, sehingga kita diberikan peringatan dini. Tidakkah Suriah memberikanmu pelajaran berharga, wahai rakyat Indonesia? Peristiwa Jakarta seharusnya menjadi tanda untuk mulai waspada”.

Karena itu saya ingin mengajak semuanya, mereka yang mengaku bangsa Indonesia, cinta pada tanah air Indonesia, untuk menjaga masjid-masjid kita, gereja-gereja kita, vihara-vihara kita, kelenteng kita, dari kotornya politik yang mengatas-namakan agama.

Jika ada pemuka agama dalam ceramahnya nanti mengajak untuk memusuhi bangsa sendiri, kita rekam dan viralkan di media sosial. Gunakan gadget kita sebagai senjata.

Baca: Pesan Penting Denny Siregar kepada Jokowi, IM Ancam Indonesia

Tolak politisasi agama. Sterilkan tempat ibadah. Kita kembalikan tempat suci sesuai fungsinya. Jangan nodai dengan politik kotor yang memecah belah. Jika bukan kita yang menjaga tempat ibadah kita masing-masing, lalu siapa lagi?

Pilpres 2019 semakin dekat. Gerakan-gerakan senyap sedang berjalan. Mari kita mulai rapatkan barisan. Seruput kopi dulu sebagai penyemangat. (SFA)

Sumber: DennySiregar.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: