Fokus

Denny Siregar: Polisi VS Teroris, Hajar Terus ISIS Pak Tito

Sabtu 01 Juli 2017 – 10.40 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Kenapa polisi lagi yang jadi korban? Ditusuknya dua anggota brimob saat shalat di masjid Falatehan menggenapkan jumlah polisi yang menjadi korban serangan teroris. (Baca: Denny Siregar: Tito Karnavian The New Avengers Jokowi)

Belum selesai, beberapa hari lalu di Mapolda Sumut satu polisi gugur ketika sedang jaga dan ditusuk. Bulan Mei, 4 polisi menjadi korban ketika sebuah bom bunuh diri meledak di dekat mereka.

Sebelumnya di akhir tahun 2016, polisi menangkap 3 teroris di Tangerang Selatan, yang nengaku akan meledakkan diri sesudah menikam polisi. Di bulan Oktobernya, seorang Kapolsek tiba-tiba diserang dan ditusuk oleh seorang simpatisan ISIS.

Ya, mereka semua simpatisan ISIS. Pemujaan terhadap ISIS bisa dilihat dari ditemukannya poster-poster ISIS di rumah mereka. Mereka belajar membuat bom panci melalui internet dan mendapat perintah membunuh melalui internet juga. (Baca: Denny Siregar “Semprot” Eko Patrio, Datang Dong,Tuh Dipanggil Bareskrim)

Dan target utamanya adalah polisi..

Pertanyaannya, kenapa harus polisi? Kenapa sasarannya bukan masyarakat biasa? Misalnya seperti yang sering terjadi di Irak dan Suriah dimana para bomber meledakkan diri di tengah keramaian seperti pasar?

Banyak faktor yang bisa mendasari alasan di balik ditargetnya para polisi negeri kita. Tetapi faktor yang paing kuat adalah sel-sel tidur teroris diperintahkan membunuh polisi untuk melemahkan mental para korps baju cokelat itu.

Serangan massif itu juga menunjukkan kepanikan teroris ketika anak buah pak Tito menyudutkan mereka, memblokir akses mereka sehingga sulit mencari bahan-bahan untuk bom panci tanpa dicurigai dan menangkap mereka yang sudah siap beraksi.

Di bawah pak Tito ini kepolisian -terutama dalam bidang terorisme- bekerja dengan baik. Pak Tito yang memang besar di bidang terorisme, bisa bergerak lebih cepat dari para teroris itu sehingga mencegah kerusakan yang lebih besar. (Baca: Wahabi Otak Bom Bunuh Diri di Seluruh Dunia)

Polisi berhasil menangkap banyak pelaku teror yang belum siap dengan aksinya. Tahun ini saja, ada puluhan terduga teroris yang diangkut dari rumahnya di Jambi, Banten, Bandung, Cikarang dan Tangsel. Polisi berhasil menyisir dan mempersempit gerak mereka.

Karena rencana mereka terganggu itulah, muncul dendam kepada pihak kepolisian yang menghalangi gerak mereka. Dendam mereka dilampiaskan dengan terus mencaci dan merendahkan pihak kepolisian terutama divisi anti teroris. (Baca: Denny Siregar: Kita yang Durhaka Kepada Pancasila)

Ingat, ketika ada bom Thamrin banyak yang menuduh polisi merekayasa bom itu? Belum lagi mereka melecehkan bom panci yang ditemukan polisi sebagai “akal-akalan” polisi untuk melakukan kriminalisasi.

Bahkan para simpatisan ISIS itu secara terang-teranganan mengadu domba antara Kapolri dan Panglima TNI, dengan memuji-muji kinerja Panglima dan menghancurkan karakter Kapolri.

Mereka memainkan peran di media sosial dengan massif dan banyak yang tidak paham terikut permainan propaganda untuk melemahkan aparat kepolisian tanpa sadar. (Baca: Denny Siregar dan Jagoan Baru Presiden Jokowi di Polri “Tito Karnavian”)

Yang mereka harapkan dengan jatuhnya mental polisi – baik dari sisi tidak dihargai kinerja mereka maupun ketakutan akan ditusuk di jalanan membuat polisi menjadi lemah dan tidak fokus lagi mengejar teoris dan mereka lebih bebas mengatur serangan yang lebih besar ke pemerintahan.

Semoga kepolisian tetap kuat menghadapi situasi ini dan terus menggempur para teroris tanpa perduli kicauan miring para manusia-manusia tak tahu diuntung itu. Mari kita support pak Tito dan seluruh jajaran Kepolisian dalam menuntaskan tugas mereka supaya negeri ini lebih aman. (SFA)

Sumber: Denny Siregar

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: