Fokus

Denny Siregar: Pilkada DKI Tahun Ini Terburuk Sepanjang Sejarah

Selasa, 28 Maret 2017 – 13.03 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Analisa menarik dari tokoh media sosial Denny Siregar, yang melihat begitu jahatnya pilkada DKI Jakarta saat ini, karena isu agama dijadikan alat politik, berikut tulisannya: (Baca: Denny Siregar: Suriah Kecil itu Bernama Indonesia)

Pilkada DKI tahun ini adalah Pilkada terburuk sepanjang sejarah. Isu yang dimainkan begitu menjijikkan dan merendahkan kemanusiaan. Bisa dibilang inilah penistaan terhadap agama Islam yang dilakukan oleh umat Islam sendiri.

Jika mempermainkan ayat masih belum cukup, pilkada kali ini juga menjual isu mayat. Baru kali ini kita melihat bagaimana seorang muslim di zolimi oleh muslim lainnya. Jenazah yang ditolak dishalatkan oleh para tetangganya satu saat akan bersaksi bahwa ia mendapat perlakuan yang sangat tidak adil oleh mereka yang mengaku saudaranya seiman.

Belum cukup menistakan firman Tuhan ke tempat yang sangat rendah, kali ini mereka mengejeknya dengan bahasa “tamasya”. (Baca: Denny Siregar: Ahok Pintu Masuk Kelompok Radikal yang Ingin Suriahkan Indonesia)

Firman itu seharusnya dibaca dan diresapi di tempat sepi dengan mengambil setiap pelajaran yang terkandung di dalamnya. Dan mereka dengan hinanya menjadikannya sebuah tamasya?.

Sudah menghina, menipu pulak. Niat dibalik kata tamasya itu adalah intimidasi. Dan yang paling hina dari itu semua adalah mereka yang menikmati semua penghinaan itu hanya karena ambisi politiknya. Bukan saja menikmati, ia bahkan menunggangi. Semua hanya karena sebuah kursi yang seharusnya bertuliskan “amanah” tetapi malah dijadikan “peluang”. (Baca: Denny Siregar: Inilah Perang Politik PKS di Indonesia)

Ironis. Amanah yang diraih dengan perbuatan tidak amanah. Dan yang paling menjijikkan adalah ketika tahu bahwa dirinya menikmati semua itu lalu dengan santun berkata, “jangan main curang di pilkada DKI”.

Pada akhirnya, semua hal yang membuat perut mual dan muntah itu akan mengalami titik balik. Dari muak akhirnya bermutasi menjadi perlawanan.

Ini sudah bukan lagi tentang siapa yang menjadi Gubernurnya, tetapi lebih kepada ketakutan akan apa yang terjadi ke depan ketika orang yang menikmati dan memanfaatkan itu, ditunggangi oleh sesuatu yang lebih besar darinya yaitu RADIKALISME.

Itulah yang tidak terpikirkan oleh mereka yang selalu memainkan isu suku, ras dan agama. Mereka tidak sadar bahwa kezaliman yang terus menerus mereka pertontonkan membuat “silent majority” akan bergerak melawan dalam gerakan diam. Yang awalnya simpati akan berbalik menghantam. (Baca: Para Ulama Timur Tengah Marah Besar Saat Agama Dipolitisasi Untuk Picu Konflik)

Pilkada tahun ini Tuhan memberi kita pelajaran. Apa yang terjadi ketika keserakahan, kebodohan, kepengecutan dan kemunafikan dibungkus dalam baju putih bersih bernama keimanan. Kita harus mencatat dengan tinta tebal nama-nama mereka yang terlibat dan menikmati semua ini dan masukkan mereka dalam daftar hitam. (Baca: Sumanto al-Qurtuby: Teror politik pengharaman shalat Jenazah)

Pada satu waktu ketika kita bersisipan jalan dengan mereka, akan terbaca patri di dahi mereka dengan jelas, “Saya dulu memainkan agama atas nama ambisi pribadi”. Beri dia secangkir kopi dengan senyuman ramah. Lalu acungkan jari tengah. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: