Fokus

Denny Siregar: Orba & Kelompok Radikal Kompak Serang Jokowi dengan Isu China Vs Pribumi

Kamis, 19 Oktober 2017 – 07.56 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Tokoh medsos menulis tentang bagaiman isu China VS Pribumi yang diangkat kembali oleh beberapa kelompok menjelang pilpres 2019, isu inilah yang menyebabkan banyak persimbahan darah di Indonesia, berikut tulisannya:

Sulit menyingkirkan bahwa kata “Pribumi” ini tidak dikaitkan dengan Pilpres 2019 yang sudah dekat ini nanti. Kata “Pribumi” ini menjadi satu keping puzzle yang akan ditudingkan kepada pemerintahan Jokowi yang sudah mendapat banyak tuduhan sebagai PKI, agen Tiongkok, didanai asing dan aseng, juga tenaga kerja Cina yang masuk ke Indonesia.

Sebenarnya malas ngomongin masalah Pribumi lagi. Tapi tiba-tiba saya teringat satu hal mendasar yang mengharuskan saya menulis tentang ini lagi.

Baca: Kasus Tanjung Balai, Media Radikal Serang Jokowi Dengan Isu Anti Islam dan Pro Etnis Cina

Diluar dari konteks siapa sebenarnya pribumi di Indonesia ini, dan cara mengeles AB yang menggambarkan pribumi dalam masa kolonial Belanda, saya mencoba menelaah lagi kapan asal muasal kata-kata pribumi itu menjadi begitu penting.

Dan ternyata jawabannya ada di kerusuhan sentimen anti Cina.

Dari tulisan Prof Sumanto al Qurtuby tentang “sentimen anti cina di Indonesia”, saya mendapat gambaran perang terbesar sentimen Cina pada tahun 1740 dikenal dengan Chineezenmoord (“Pembantaian orang-orang Cina”) di Batavia (kini Jakarta).

Pada saat itu 10 ribu jiwa orang Cina yang melayang. Para sejawaran menduga bahwa dalang kerusuhan anti Cina ini adalah VOC.

VOC merasa tersaingi secara politik dan ekonomi oleh orang Cina yang kebetulan menguasai syahbandar atau pelabuhan. Mereka juga menguasai perdagangan dan sebagian menjadi elit politik di tanah Jawa.

Sesudah kerusuhan itu, VOC mengeluarkan passenstelsel, atau surat jalan khusus utk warga Cina. VOC juga mengeluarkan peraturan yang bernama wijkenstelsel yang mengharuskan warga Cina hanya boleh berdiam di sebuah wilayah khusus yang kini disebut sebagai Pecinan.

Dan siapa musuh dari Cina itu? Jelas, Pribumi. Sebuah status sosial paling rendah yang diberikan VOC kepada warga lokal, yang berarti kelas pekerja. Dan politik devide et impera VOC itu juga yang diadopsi di masa orde baru.

Baca: Fanatisme Adalah Seruan Jahiliyah

Kerusuhan-kerusuhan anti Cina di Medan, Solo dan banyak kota lainnya adalah bagian dari politik orde baru untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Yang terakhir tahun 1998, ketika orde baru terpaksa harus mengakhiri kekuasaannya.

Saat kerusuhan tahun 1998 itu, kuat sekali aura anti Cina berkobar, ditandai dengan ditulisnya pintu-pintu ruko dan rumah dengan tulisan “Milik Pribumi”.

Dan inilah yang dimainkan sekarang, sentimen anti Cina dengan tema baru “Kebangkitan Pribumi”. Masih ditambah dengan kata “Muslim” untuk semakin memperkuat tema..

Siapa yang bermain disana?

Banyak, mulai dari orba yang ingin bangkit kembali juga ormas Islam radikal yang ingin mendirikan khilafah atau terpojok karena Perppu pembubaran ormas.

Diharapkan dengan naiknya kebanggaan sebagai pribumi, akan menaikkan tensi sentimen anti Cina yang sebelumnya sudah mereka gambarkan dengan kata-kata “aseng”, “9 naga” dan lain-lain.

Pribumi sendiri digambarkan sebagai orang yang kalah dalam sisi ekonomi dan menuntut perubahan singkat dalam penguasaan ekonomi – dan politik.

Baca: Fanatisme atau Toleransi: Pilihan Menjadi Indonesia

AB sendiri mungkin hanya sebagai pion saja, untuk memainkan isu Pribumi sebagai “titipan pesan”. Dan karena ia terikat kuat dengan kelompok radikal dan dana orba yang menyokong kampanyenya, maka mau tidak mau pesan itu harus disampaikan..

Jadi, kata “Pribumi” yang keluar itu bukan hanya sebagai kecelakaan saja, melainkan berupa agenda seting yang sedang dijalankan untuk membangun aura permusuhan sebagai sebuah tema kerusuhan yang kelak akan dijalankan.

Dan kita lihat, sesudah pernyataan Pribumi itu keluar, keluar juga logo “Kami Pribumi” yang beredar di media sosial dan grup whatsapp, yang menandakan ada konsentrasi kekuatan atas nama kebanggaan kelompok.

Sulit menyingkirkan bahwa kata “Pribumi” ini tidak dikaitkan dengan Pilpres 2019 yang sudah dekat ini nanti. Kata “Pribumi” ini menjadi satu keping puzzle yang akan ditudingkan kepada pemerintahan Jokowi yang sudah mendapat banyak tuduhan sebagai PKI, agen Tiongkok, didanai asing dan aseng, juga tenaga kerja Cina yang masuk ke Indonesia.

Isu anti Cina itu efektif, karena ada kelompok yang memainkan iramanya.

Meskipun dalam kegiatan ekonomi, mereka gak anti-anti banget sama keturunan Cina bahkan malah berkawan dengannya, tetapi harus ada tema yang dibangun untuk bisa mengambil kembali “periuk nasi” yang hilang karena kebijakan Jokowi. Seruput dulu, kawan… Situasi akan makin panas ke depan. (SFA)

Sumber: DennySiregar.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: