Fokus

Denny Siregar: Kudeta Gagal HTI Hancurkan NKRI

Sabtu, 30 September 2017 – 11.17 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Analisa Tokoh Medsos Denny Siregar yang menjelaskan “Kudeta Gagal HTI Hancurkan NKRI”, berikut tulisannya:

Persis seperti apa yang saya ungkapkan dalam tulisan “Jakarta mulai panas, pakde Jokowi”, demo 299 itu sejatinya adalah demo HTI.

Baca: Politisasi Agama Cara Israel, Teroris & HTI Rampas Hak Orang Lain

HTI mempunyai kepentingan utama bukan karena masalah kebangkitan PKI, tapi karena Perppu pembubaran ormas. Seperti kita tahu, HTI masih menjadi korban satu-satunya ormas yang dibubarkan karena perppu itu.

Dan HTI ini ormas militan. Kerja mereka adalah demo dan demo.

Demo yang sering mereka lakukan sebenarnya bukan karena mereka perduli tethadap situasi lokal maupun internasional, tetapi lebih besifat dagang.

Dengan sering turun ke jalan, mereka mencari nama – dengan diliput media – dan dengan nama itu mereka merekrut banyak kader maupun simpatisan. Yang ujungnya adalah “dana perjuangan”.

Nah, yang menarik bagi saya, ternyata ada di keberhasilan pemerintah – terutama aparat kepolisian – dalam meredam aksi demo tersebut.

Cara polisi memang aduhai. Mereka membuktikan profesionalitas dalam mengawal aksi massa. Mereka melebur di tengah peserta demo, dan mengawal dari dalam dengan pakaian yang sama dengan pendemo.

Baca: 5 Step Kelompok Radikal dan HTI Hancurkan Sebuah Negara

Begitu juga barisan polisi penghadang. Mereka memakai sorban yang sama dan shalat Jumat bersama.

Ada yang lebih menarik, yang tidak terlihat di permukaan.

Para peserta demo yang awalnya diperkirakan berjumlah 30ribu sampai 50ribu, tiba-tiba mundur lebih dari separuhnya. Mereka menarik diri di saat terakhir.

Saya lalu mencoba mencari informasi, kenapa mereka akhirnya mundur dari aksi massa itu?

Dari info yang saya dapat, ternyata kepada peserta demo “diingatkan” bahwa aksi 299 dinilai akan berpotensi rusuh. Ada potensi “kudeta” yang akan dilancarkan dengan menduduki DPR. Dan kudeta ini dilakukan HTI dengan menunggangi ormas-ormas yang memang niat awalnya hanya demo tentang kebangkitan PKI.

Mendengar bahwa demo akan ditunggangi HTI untuk melakukan kudeta, banyak ormas yang takut. Mereka -para pentolan ormas yang nama namanya sudah dipegang polisi- langsung mundur teratur, karena perkara kudeta itu bukan perkara biasa. Itu kejahatan luar biasa.

Baca: HTI PEMBERONTAK?

Begitu juga dengan para sponsor. Mereka langsung menarik diri bersamaan, ketika diingatkan untuk tidak terlibat dalam aksi demo karena berarti mereka mendukung kudeta. Dengan begitu logistik berkurang jauh dan hanya bergantung pada logistik dari HTI yang jelas tidak memungkinkan untuk membuat skala demo menjadi lebih besar.

Begitu juga media massa diminta untuk tidak meliput demo secara massif. Dengan begitu, aksi massa tidak mendapat dukungan luas hanya berupa pemberitaan kecil yang tidak menarik.

Disinilah pentingnya perang kontra intelijen.

Permainan pikiran sangat menentukan dalam memperoleh kemenangan. Untuk itu saya harus mengangkat secangkir kopi kepada “pasukan senyap” operasi intelijen dari gabungan BIN, TNI dan Polri yang bermain tanpa terlihat.

Saya juga harus angkat secangkir kopi untuk Kapolri Tito Karnavian yang mampu berfikir 10 langkah ke depan dalam menghadapi potensi rusuh di aksi massa. Dan semua itu tentu karena latar belakang beliau yang sangat kuat dalam ilmu terorisme.

Pada akhirnya, diperkirakan demo kemarin hanya diikuti 5 sampai 10ribu massa saja. Malah mungkin lebih kecil. Mereka tidak bisa mengulang kesuksesan di 411 dan 212. Polisi sudah belajar banyak bagaimana menghadapinya.

HTI pun gigit jari…

Tidak banyak orasi yang membakar di demo tersebut. Bang Thoyib yang biasanya suka membakar-bakar, tidak mau pulang kalau demo belum sukses. Yang ada hanya orasi si kwetiaw yang menyamakan Jokowi dengan fir’aun.

Seharusnya situasi ini bisa dimanfaatkan betul oleh ormas Islam moderat seperti NU melalui organ pemudanya Ansor dan Banser.

Baca: Ansor, Banser & Pemerintah Kompak Gebuk Ormas Anti Pancasila Perongrong NKRI

Ansor dan Banser harus muncul dalam bentuk aksi besar ke jalan, mendukung Perppu Ormas. Gerakan massa Ansor dan Banser akan merebut panggung jalanan yang selama ini dipakai kelompok fundamental untuk promosi dirinya.

Ansor dan Banser harus menjadi leader dalam mempromosikan “Islam rahmat yang cinta NKRI”. Dan sudah pasti ketika mereka muncul, para silent majority akan terwakili. Tidak boleh ada ormas yang mengatas-namakan agama untuk kepentingan politik yang haus kekuasaan.

Ah, jajaran pakde Jokowi masih terlalu tangguh buat kaum radikal sampai saat ini. Meski begitu, saya terus bertanya “sampai kapan”? Karena jika polisi belajar, merekapun akan belajar untuk menyempurnakan isu dan aksinya. Sudah saatnya berfikir “mencegah” daripada satu waktu kita harus “mengobati”. Seruput dulu ah. (SFA)

Sumber: DennySiregar.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: