Nasional

Denny Siregar: Jokowi Semakin Perkasa di Tahun Politik

Rabu, 17 Januari 2018 – 12.44 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Tulisan bagus pegiat media sosial Denny Siregar terkait tahun politik dan keperkasaan Jokowi, berikut ulasannya:

Jujur saya juga tidak menyangka bahwa situasi tahun 2018 -yang dianggap sebagai tahun politik- bisa setenang ini. Saya dulu menyangka bahwa inilah tahun tergaduh yang akan penuh dengan gerakan-gerakan massa dan keributan di mana-mana.

Baca: Denny Siregar: Revolusi Pangan Ala Jokowi

Kalau melihat jejak tahun 2016 dan 2017, yang riuh rendah masalah “politik berbaju agama”, saya memprediksi bahwa keriuhan tertinggi ada di tahun ini..

Tapi ternyata meleset.

Langkah-langkah Jokowi dalam mengamankan situasi ini benar-benar brilian. Banyak sekali isu yang berhasil diredam.

Isu PKI hilang tanpa permasalahan berarti. Pergantian Panglima TNI benar-benar membuat gorengan-gorengan kelompok intoleran menjadi tidak matang. Panglima TNI yang sekarang berangkulan dengan Polri, menunjukkan bahwa aparat sedang solid-sesolidnya jadi, “jangan macam-macam”.

Baca: Jokowi Anak Kandung Ibu Pertiwi Kenapa Harus Dihabisi?

Tidak ada lagi pernyataan-pernyataan yang meresahkan dan menimbulkan riak-riak baru. Apalagi ketika itu berpotensi mengakibatkan benturan. Semua teratasi dan kita kembali berada pada situasi yang jauh lebih stabil dari sebelumnya.

Menahan banding Ahok ternyata langkah yang jitu. Dengan tidak adanya nama Ahok dalam peta perpolitikan kali ini, tidak ada lagi sasaran yang bisa dituju. Bingung menggoreng isu dalam setiap gerakan pengumpulan massa dengan bahasa “penistaan agama”.

Akhirnya geliat terakhir mereka adalah mengumandangkan “reuni” yang pesertanya makin lama makin menyisih. Apalagi tanpa menggunakan nama MUI.

HTI tidak bisa bebas bergerak lagi, sejak dihajar Perppu Ormas. Keberadaan “ustad-ustad” mereka dihadang dimana-mana. Ada yang sempat muncul sebentar lalu tenggelam ke dasar. Orang sudah bosan mendengar namanya apalagi ketika tahu bahwa dia menghina Rasulullah.

Baca: HTI, ISIS, Wahabi Meretas NKRI

Doi pun takut ke permukaan karena ada yang berbisik, “berbuat ulah lagi di tahun politik ini, kami hajar dengan pasal penistaan”. Dikepret, langsung diam.

Beberapa pentilan ormas radikal tiarap. Mereka yang di tahun 2016, sibuk berkoar, kali ini bungkam seribu bahasa. Cari selamat daripada aibnya dibuka.

Aparat tahu, cara menghadapi pentilan-pentilan itu bukan berhadap-hadapan dengan mereka karena pasti mereka bermain sebagai korban. Tapi dengan melorotkan celananya, sehingga tampaklah anunya klewer-klewer dan terbirit-birit lari karena takut ditertawai.

Pihak mediapun sepakat untuk tidak membesarkan nama ormas-ormas yag sedang mencari panggung luas. Pihak media sosial seperti Facebook pun akhirnya paham, bahwa jauh lebih berguna menjaga keamanan negara dengan memblokir akun-akun yang provokatif daripada nanti tidak bisa lagi berusaha disini karena situasi yang kacau.

Pilkada di daerah-daerah yang rencana mau diledakkan, tiba-tiba sumbunya seperti terendam. Di Jabar tidak bisa diadu dengan membangun dua kekuatan. Di Jatim, merekapun terhalang. Di Jateng dan Sumut, partai-partai menyebar saling merangkul sehingga si pengadu domba bingung tak bisa berkata-kata.

Baca: Denny Siregar: Gaya Politik Jokowi Pusingkan Lawan dan Kawan

Dan karena tidak mampu menembus benteng tebal yang dibangun Jokowi dan kelompok yang menjaga negeri ini, merekapun akhirnya berantem sendiri masalah mahar. Mudah ternyata mengkocar-kacirkan barisan mereka, karena di sebelah sana uang adalah segala-galanya.

Jokowipun tersenyum menggandeng sana-sini. Menggandeng NU, mengajak Muhammadiyah, merangkul MUI dan ormas-ormas agama yang masih dibina. Ia membagikan sertifikat-sertifikat tanah untuk dikelola supaya umat-umat mereka punya kerjaan lagi.

Jika sibuk dengan masalah ekonomi, niscaya tidak ada yang bisa di provokasi lagi. Suasana tiba-tiba hening dan tenang. Jonru dipenjara. Akun-akun FPI tumbang. Kelompok Saracen disikat ke akar-akarnya.

Aku yang terbiasa menulis untuk meng-counter fitnah-fitnah mereka jadi kehilangan nilai tulisan. Pak Mantan juga sudah tidak banyak bersuara ketika dirangkul mendekat sehingga kurang bergairah. HT dipaksa sibuk dengan bisnisnya dan harus stop kampanye sementara.

Mungkin sudah saatnya mundur dari mengamati politik karena Jokowi terlalu perkasa untuk di lawan. Bani micin kehilangan banyak orang-orang tangguhnya. Jadi kurang mengasyikkan.

Lega rasanya melihat kehidupan kita berangsur-angsur membaik lagi. Paling isu yang dibangun ya itu-itu aja, masalah hutang pemerintah yang mau dijelasin gimana juga tetap aja mereka gak perduli.

Ah untung masih ada secangkir kopi yang menemaniku setiap hari. Semoga aku bertemu Tuhan lagi dalam setiap seruputannya, seperti waktu lalu ketika semua kesulitan membuatnya menjadi indah. Seruput dulu ah.. Tuhan, apakah Engkau masih di dalam secangkir kopi?. (SFA)

Sumber: www.dennysiregar.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: