Fokus

Denny Siregar: HUT RI Jokowi Mainkan Politik Ciamik

Jum’at, 18 Agustus 2017 – 07.15 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Tokoh media sosial Denny Siregar mengulas tentang bagaimana Jokowi mainkan politik mematikan bagi lawan politiknya, dan ini adalah hal yang sangat bersejarah sekali, dimana SBY-Megawati bertemu dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan RI ke 72 di Istana negara. Beikut tulisannya: (Baca: Denny Siregar dan Tendangan Maut Pakde Jokowi Hadapi Isu dan Lawan Politiknya)

Sejarah baru kembali ditoreh oleh Presiden Jokowi. 12 tahun berlalu, akhirnya Megawati dan SBY, mantan Presiden Indonesia, bertemu dan bersalaman di acara peringatan hari kemerdekaan di istana.

Ini perjalanan panjang bagi keduanya. Sejak pilpres 2004, Megawati seperti menyimpan bara kepada SBY yang menyalipnya di tikungan. Dan selama 10 tahun kepemimpinan SBY, tidak sekalipun Mega menghadiri upacara peringatan kemerdekaan di istana. Biasanya yang mewakili adalah Puan, anaknya. (Baca: Denny Siregar: Gaya Politik Jokowi Pusingkan Lawan dan Kawan)

SBY juga begitu…

Selama dua tahun kepemimpinan Jokowi, SBY tidak pernah menginjakkan kakinya kembali di istana saat acara 17 Agustus. Seperti berbalas pantun, dimana ada SBY disitu Mega tidak ada dan sebaliknya.

Tapi di usia 72 tahun Indonesia ini ternyata beda…

Jokowi secara pribadi meminta kedua mantan Presiden itu untuk hadir bersama dan melupakan permusuhan mereka selama ini. “Dah pada tua, masih pada berantem aja..” begitu mungkin pikiran Jokowi.

Dan akhirnya sejarah berbicara, kedua mantan Presiden itu bertemu dan berjabat tangan. Mungkin saja mereka mengaitkan kelingking tanda sudah tidak jotakan, seperti yang dilakukan ketika masa kecil dulu.

Buat saya, ini bukan saja masalah sejarah yang terrtoreh tapi strategi politik yang ciamik dari Jokowi.

Dengan menempatkan Mega dan SBY dalam satu panggung, maka ada yang hatinya terluka di seberang sana, yang juga merayakan hari kemerdekaan di sebuah universitas di Jakarta.

Ketidak-hadiran SBY di acara mereka dan malah hadir di istana, menunjukkan bahwa koalisi oposisi itu ternyata sangat lemah. Pantas waktu di foto bersama, wajah mereka semua bermuram durja dan gundah gundala. (Baca: Denny Siregar: Politik Ciamik Jokowi Taklukkan SBY)

SBY jelas diharapkan akan bergabung pada kubu mereka apalagi sesudah diplomasi “nasi goreng” itu. Dengan bergabungnya SBY di kubu oposisi, diharapkan akan bisa membangun persepsi kekuatan seperti saat koalisi di parlemen dahulu, KMP vs KIH.

Sayang seribu sayang, mereka tidak paham bahwa SBY jelas akan lebih memilih datang ke istana. SBY juga paham peta kekuatan yang ada dan tidak bijak bagi dirinya sekarang ini untuk mengambil sikap oposisi pada Jokowi.

Lagian dia pernah jadi mantan, sedangkan yang di seberang masih jadi calon-calonan. Kepiawaian politik gaya Solo Jokowi yang merangkul, adalah sebuah contoh yang harus diadopsi banyak calon pemimpin nantinya. Jokowi pintar memainkan momen dan simbol dalam segala lini.

Dalam rangkulan Jokowi, terbaca banyak pesan. Mulai pesan persahabatan, pesan kekeluargaan, pesan damai sekaligus pesan mematikan untuk lawan. Dan mungkin ini juga yang membuat Prabowo akhirnya menjadi kesal. Kekesalan itu dilampiaskan ke wartawan. “Dari muka kalian, keliatan gaji kalian kecil…”. (Baca: Denny Siregar dan Cara Perang Politik Cerdas Jokowi)

Wartawan yang gak tahu apa-apa jelas melongo sambil melirik dompet masing-masing yang pada setiap tanggal 17 semakin tipis.

Malam ini para wartawan mungkin juga sedang berkaca di cermin masing-masing, sambil bertanya dalam hati, “Benarkah muka ada korelasinya sama gaji?” Dua dari puluhan wartawan yang hadir tadi, besoknya rencana untuk operasi plastik. Sudah malam, daripada ngelantur lebih baik seruput kopi biar segar. (SFA)

Sumber: DennySiregar.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: