Fokus

Denny Siregar: GNPF MUI, Jokowi Wong Solo Kok Dilawan

Senin, 26 Juni 2017 – 09.47 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Akhirnya GNPF MUI temui Presiden Jokowi di Istana Merdeka saat Opne House kemarin (25/06), salah satu pegiat sosial media Denny Siregar menulis sebuah Opini kenapa Jokowi temui GNPF MUI? Berikut tulisannya:

Pertanyaan yang sama dari banyak orang, “Untuk apa Jokowi menerima GNPF MUI di istana?”

Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa itu adalah kelemahan Jokowi. GNPF MUI pimpinan Bahtiar Nasir selama ini dikenal sebagai kelompok yang berseberangan dengan Jokowi. Bahkan Jokowi sempat dikatakan oleh mereka selangkah lagi akan membuat negara ini kafir. (Baca: Denny Siregar: Jokowi, Wong Solo Kok Dilawan)

Saya malah memandangnya terbalik, bahwa sebenarnya disanalah kekuatan Jokowi. Jokowi adalah tipikal orang yang mampu meredam emosinya sampai titik paling rendah. Ia mampu menyimpan semua strategi berperangnya sehingga tidak semua orang bisa membacanya.

Saya yakin, sedikit sekali dari kita yang mampu bersikap dingin dan menerima dengan ramah orang yang selama ini jelas-jelas bertentangan dengan kita. Bahasa tubuh ketidak-sukaan kita akan keluar dan secara otomatis kita akan menolak bertemu mereka.

Tetapi Jokowi adalah sedikit dari orang yang mampu seperti itu. Saya teringat dengan dinginnya Jokowi mendatangi Bibit Waluyo – yang pada waktu itu masih menjabat Gubernur Jateng dan terkenal dengan kebenciannya kepada Jokowi waktu dia menjabat Walikota Solo. Jokowi yang baru saja menjabat Gubernur DKI datang dan berusaha mencium tangan Bibit yang dengan segera menepisnya. (Baca: Jokowi: Asing Akan Masuk Jika Melihat Kita Retak dan Lemah)

Bisa anda begitu seperti Jokowi? Saya meragukannya. Dan kita lebih senang mengukur diri kita seperti Ahok yang dengan spontan akan bereaksi keras.

Itulah yang saya bilang kekuatan sebenarnya Jokowi. Sama seperti ketika ia menerima Prabowo dan SBY di istana, padahal Jokowi jelas-jelas tahu bahwa kedua orang ini adalah musuh politiknya..

Lalu, kenapa Jokowi menemui GNPF MUI?

Saya teringat seorang teman berkata bahwa Jokowi pernah berbisik kepadanya. “Kesalahan terbesarku adalah menciptakan musuh secara bersamaan dalam satu waktu. Pada akhirnya saya kerepotan sendiri menghadapi ketika mereka bersatu”.

Jokowi sebenarnya sedang memainkan pecah ombak. Ia pemain psikologis yang sulit dicari bandingnya. Dengan menerima GNPF MUI -yang sudah merengek-rengek melalui Menag untuk bertemunya- Jokowi sebenarnya mulai memecah barisan lawannya. Ia merangkul satu musuh untuk menghantam musuh lainnya. (Baca: Pengamat UGM: Ada Blok Elite Politik Lemahkan Kekuasaan Pemerintahan Jokowi-JK)

Dengan rangkulan itu, maka musuh akan mulai curiga bahwa koalisinya selama ini mulai berkhianat. Dan pada akhirnya diantara mereka tidak tercipta kepercayaan absolut.

Kita dengan mudah mengutip strategi Sun Tzu, “Dekatlah kepada kawanmu, tetapi lebih dekatlah kepada musuhmu.” Pertanyaannya, mudahkah menerapkan strategi seperti itu tanpa kemampuan psikologis level dewa? Jokowi bisa.

Dan itu sudah dilakukannya berkali-kali ternasuk terhadap Bibit, Prabowo dan SBY. GNPF MUI tentu senang dan berbalik memuji Jokowi. Mereka “merasa” sudah berhasil melakukan langkah setahap untuk nego rekonsiliasi. Dan dengan itu mereka berharap bisa mengamankan posisi mereka yang sedang tidak aman itu.

Tetapi mereka salah besar. (Baca: Denny Siregar dan Cara Perang Politik Cerdas Jokowi)

Jokowi tidak akan menghentikan kasus-kasus hukum yang sedang berjalan. Ia sedang menancapkan pisaunya lebih dalam menembus tulang lawannya. Dan -hebatnya Jokowi- lawannya bisa mati tanpa berdarah dan merasa ia sedang dibunuh.

Ibarat permainan catur, Jokowi itu seperti terlihat membuka pertahanannya lebar-lebar dan menunjukkan kelemahannya. Padahal disanalah sesungguhnya jebakan yang mematikan. Dengan menerima GNPF MUI, Jokowi akan meraih dua keuntungan sekaligus. Meredam serangan musuh dan menaikkan simpati dari pendukung musuhnya selama ini kepada dia. (Baca: Eko Kuntadhi: Pakde Jokowi Saatnya Bersih-bersih Benalu dan Parasit NKRI)

Siapapun tahu, bahwa antara Jokowi dan Ahok ada hubungan khusus yang mendalam. Dan tidak ada yang bisa menghentikan rasa sakit hatinya terhadap musuh-musuh sahabatnya itu. Satu persatu lawannya sedang menderita sekarang. Satu persatu. Seharusnya lawan Jokowi mengerti satu hal yang sangat jelas tapi mereka selalu lupa. Bahwa Jokowi itu orang Solo.

Ah, saya selalu senang memperhatikan langkah-langkah catur orang ini sambil seruput secangkir kopi. Tidak pernah sedikitpun saya meragukannya. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: