Nasional

Denny Siregar: Duet Maut Jokowi-Kapolri Sikat Pengganggu NKRI

Rabu, 08 Februari 2017 – 16.15 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Gerakan radikal yang saat ini mengancam negara mendapat perhatian serius dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), dia memerintahkan Kapolri untuk mengatasi masalah ini. Tokoh sosial media Denny Siregar membuat sebuah analisa tentang duet maut Jokowi dan Kapolri menghadapi gerakan yang ingin mengganggu NKRI. (Baca: Denny Siregar: Pakde Jokowi Kembalikan Islam Nusantara)

Entah saya harus angkat secangkir kopi atau saya minum kopi yang dingin pagi ini. Melihat kinerja pak Tito Kapolri, saya berada pada posisi antara bersyukur dan ngeri.

Bersyukur karena ia berhasil membawa ke ranah hukum para petinggi aksi-aksi besar yang mengganggu jalannya pemerintahan, dan ngeri dengan langkah-langkahnya yang dingin dan menghunjam tepat di jantung lawan. (Baca: Jaringan Terorisme Global Ancam Indonesia)

Mungkin karena pak Tito berlatar-belakang pengetahuan tentang terorisme dan radikalisme global lah, maka ia cocok sekali berada pada posisi ini.

Pasca jatuhnya Soeharto, gerakan radikalis berbaju agama di Indonesia mulai bangkit. 10 tahun masa pemerintahan SBY adalah ladang subur radikalisme. (Baca: Denny Siregar: Taktik “Perang” Tito Karnavian Bela Negara)

Mereka berkembang dimana-mana dalam bentuk ormas maupun pemikiran. Mereka menguasai siaran2 televisi yang berbalut agama dengan pemahaman versi mereka. Mereka membentuk ulama-ulama baru dengan pemikiran radikal untuk merubah negara ini menjadi negara agama.

Saya pernah menulis tentang itu dalam judul “Indonesia menuju Suriah”. Pada masa pemerintahan Pakde inilah wajah radikalisme di Indonesia mulai muncul di permukaan. Saling memanfaatkan antara mereka, elit politik kotor, partai yang ingin berkuasa kembali dan mafia yang dihabisi, mereka bersatu dan bergerak untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi. Di aksi 411 dan 212 inilah antara ideologi radikal dan dana besar bersatu.

Waktunya tepat sekali Jokowi mengangkat Tito Karnavian sebagai Panglima di lapangan untuk menghantam mereka. Tito panglima yang sangat dingin. Ia tidak menghantam lawannya dengan tudingan melawan pemerintah, karena itu akan memunculkan stigma baru bahwa rejim Jokowi ini diktator. (Baca: Benang Merah Konflik Suriah ke Indonesia)

Ia menguliti satu persatu aktor-aktor dibelakang aksi massa dengan membuka borok mereka. HR dipreteli habis-habisan dengan senjata ditangannya sendiri. Dihancurkan karakter “kesucian” yang dibangunnya sehingga ia menjadi tampak busuk dgn beredarnya chat mesranya.

HR harus menghadapi dakwaan penghinaan negara, dakwaan pornografi dan 10 somasi lagi yang menyerangnya. Serangan kepada HR dibuat berlapis-lapis sehingga ia tidak bisa bergerak dan penyandang dananya selama ini takut terlibat.

Munarman sebagai komandan lapangan aksi massa, disikat melalui laporan pecalang Bali yang merasa terhina. Ia sekarang menjadi tersangka.

Bachtiar Nasir yang menjadi otak gerakan digiring pula dengan borok yang selama ini ia tutupi “kasus pencucian uang” di yayasan. Meski masih sebagai saksi, kemungkinan besar statusnya akan dinaikkan ke depannya. (Baca: Cendikiawan Suriah: Banyak Negara Muslim Hancur Karena Tak Cinta Tanah Air)

Mereka-mereka ini dianggap ustad oleh kelompoknya dan banyak masyarakat lain yang tidak tahu siapa mereka sebenarnya. Pak Tito sudah mulai membuka bulu domba mereka satu persatu. Sadis memang permainan pak Tito, tapi mungkin itu yang kita perlukan sekarang ini. Menghadapi mereka bukan dengan “head to head” karena mereka biasa bermain sebagai korban, selalu terzolimi, dengan membawa-bawa nama umat Islam..

Entah saya harus angkat secangkir kopi atau saya minum kopi yang dingin ini. Tapi saya putuskan untuk angkat secangkir kopi kepada Jokowi dan Kapolri dalam menghadapi lawannya yang biasa bermain api dengan kepala yang sangat dingin. Dingin dan mematikan.. Seruput. (SFA)

Sumber: DennySiregar.com

9 Comments
To Top
%d bloggers like this: