Fokus

Definisi Ustadz Ala Prof Sumanto Al-Qurtuby

Senin, 22 Januari 2018 – 07.55 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Saat ini gampang sekali menjadi ustadz, dan penceramah dadakan tanpa mempunyai latar belakang keilmuan yang memadai, sehingga tidak tepat dalam menafsirkan penjelasan-penjelasan agama, dan itu sangat berbahaya sekali.

Baca: Ceramah Blunder Ustad Abdul Somad yang Hina dan Lecehkan Nabi Muhammad

Professor Sumanto Al-Qurtuby kupas tentang definisi ustad dalam akun facebooknya, berikut ulasannya:

Lain ladang lain belalang, lain negara lain pula penggunaan kata “ustad”. Di Indonesia zaman now, kata ustad pada umumnya dipakai sebagai sebutan atau panggilan untuk para penceramah atau dai. Kata “ustad” juga dipakai untuk “guru ngaji”.

Dulu, sebutan “ustad” untuk penceramah atau guru ngaji ini tidak atau kurang populer. Di pondok-pondok pesantren tradisional NU, para santri memanggil guru-guru mereka (dari kalangan “santri senior”) yang mengajari “kitab gundul” cukup dengan panggilan “kang”, kecuali jika yang mengajar adalah pengasuh laki-laki pondok pesantren, para santri memanggilnya “kiai” (kalau perempuan “bu nyai”). Sangat jarang yang memanggil “ustad” kepada guru ngaji.

Baca: Wejangan Gus Dur Terbukti ‘Akan Tiba Saatnya Orang yang Tidak Pernah Belajar di Pesantren Dianggap Alim’

Penceramah juga jarang yang dipanggil “ustad”, kecuali Ustad Zainuddin MZ atau Ustad Kosim Nurseha, dua di antara dai populer di zaman old yang saya suka ceramah-ceramahnya. Sepertinya sebutan “ustad” ini bermula di kelompok Islam kota, khususnya Kota Jakardah. Sebutan ini kini semakin populer siiring dengan pengaruh Arabisasi di Indonesia.

Bagaimana dengan sebutan “ustad” di negara-negara lain? Menurut sejumlah kolegaku, sebutan “ustad” di Mesir adalah untuk “professor”. Hal yang sama juga di Saudi. Kata “ustad” adalah untuk dosen yang mengajar di perguruan tinggi (yang biasanya bergelar doktor). Kalau untuk guru madrasah (dari Madrasah Ibtida’iyah sampai Madrasah Aliyah), sebutannya “mudarris”. Perlu dicatat, sebutan “ustad” ini bukan hanya untuk Muslim saja tetapi juga untuk non-Muslim.

Di Mesir, masih menurut kolegaku yang dari Mesir, penceramah disebut “dai”. Kata “muballigh” tidak dikenal dan kurang populer. Kata “muballigh” itu, menurutnya, untuk sebutan “tukang pidato” di zaman nabi dulu yang kini jarang dipakai.

Di Aljazair lain lagi. Menurut kolegaku yang dari Aljazair, kata “ustad” adalah sebutan untuk guru baik guru Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP), Madrasah Aliyah (setingkat SMU) maupun dosen di perguruan tinggi. Kalau guru SD, sebutannya “muallim”, bukan “ustad”.

Baca: Gus Mus: Umat Lupa Pemimpin dan Panutannya Adalah Nabi Muhammad Bukan Abu Jahal

Yang menarik adalah di Pakistan (dan juga India). Menurut kolegaku yang dari Pakistan, “ustad” adalah sebutan untuk profesi dan keahlian apa saja: tukang ngajar, tukang montir, tukang salon, tukang nyopir, tukang insinyur, tukang masak (chef), dlsb. Pokoknya mereka yang punya keahlian atau skill tertentu disebut “ustad”. Khusus untuk “pengajar”, lebih populer disebut “guru”.

Karena “ustad” adalah “kata generik” untuk profesi dan skill apa saja, maka ilmuwan atau dosen universitas kurang atau bahkan tidak suka kalau disebut “ustad”. Kalau ada orang yang memanggil seorang dosen dengan sebutan “ustad”, maka ia balik tanya: “Kau kira saya montir?”. Begitulah man-teman, lain ladang memang lain belalang, bukan? Bukaannnnn. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Sumanto Al-Qurtuby

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: