Nasional

Bareskrim Ungkap Jaringan “Mafia” Cabe Rawit

Jum’at, 03 Maret 2017, 17.55 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Harga Cabai rawit merah hingga saat ini masih betah di atas Rp 100.000/kilogram(kg), bahkan di beberapa daerah di Indonesia bisa sampai tembus Rp 160.000/kg. Harga cabai merah selangit, lebih mahal daripada daging sapi yang harganya Rp 120.000/kg.

Bareskrim Polri bersama Kementerian Pertanian (Kementan) bekerjasama mengungkap pemicu harga cabai mahal. Hasilnya, harga cabai rawit merah mahal karena ada permainan di tingkat pengepul. Cabai yang seharusnya dipasok ke Pasar Induk, salah satunya Pasar Induk Kramat Jati, justru dijual ke beberapa perusahaan untuk diproduksi.

“Kami melakukan penyelidikan sampai pemeriksaan penyidikan kita urut dari wilayah Jawa Timur, kita temukan cabai ini seharusnya ke pasar induk parameternya Kramat jati, sebagai parameter harga, seharusnya ke pasar induk, ini lari ke beberapa perusahaan. Cocok dengan fenomena yang berada di lapangan, cabai ini lari ke beberapa perusahaan karena harga cabai sangat tinggi,” ungkap Kasubdit I Dittipideksus (Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus) Bareskrim Polri, Kombes Hengki Haryadi, di di gedung Surachman lantai 3, komplek Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (3/3/2017).

“Kita adakan pemeriksaan beberapa tersangka, kami tentukan dua tersangka, karena yang bermain adalah pengepul, yang seharusnya lari ke pasar induk, hubungan sebab akibat ya penyelidikan kami harusnya ada 50 ton ke pasar, ini 80% berkurang lari ke perusahaan,” sambung Hengki.

Bareskrim menetapkan dua tersangka pengepul cabai berinisial SJN dan SNO, berasal dari Solo. Keduanya akan dikenakan hukuman sesuai Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1999 tentang larangan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, dan Undang-undang RI Nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan.

Hengki menjelaskan, kasus ini terungkap setelah Bareskrim menelusuri alur cabai yang seharusnya dibawa ke Pasar Induk Kramat Jati. Namun kenyataannya cabai ini berbelok ke beberapa perusahaan untuk diproduksi.

“Ini sementara, ini kurang lebih contohnya hanya 1 ton, ini adalah barang dari pengepul yang akan dijual, dua ini tersangka dari solo, jadi ibaratnya satu baris pengepul besar, tentang penentuan harga dan ini ada petani dan sebagainya”, ujar Hengki.

Hengki menduga perdagangan cabai ini di konsinyasi dengan orang yang sama. Hal ini disampaikan Hengki berkaitan dengan pihak perusahaan yang merasa tidak puas dengan kualitas cabai impor.

“Desember produksi mereka naik, yang biasa impor mereka tidak puas dengan layanan impor ini, ada langu, cairan, jadi mereka mengambil dari petani di Indonesia, Sementara ada diprediksi 6 perusahaan di Jakarta dan sekitarnya,” ungkapnya. “Pasalnya kita berkembang kasusnya, ada keterlibatan apa tidak, jadi kita akan periksa dahulu,” tutur Hengki. (SFA/DetikFinance)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: