Nasional

Bank Milik Konglomerat Hary Tanoe “Bangkrut”

Minggu, 06 Agustus 2017 – 16.52 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Bank milik konglomerat Hary Tanoesoedibjo, PT Bank MNC International Tbk, bukukan kerugian sebesar Rp 51,43 miliar pada Juni 2017. (Baca: Hari Tanoe Penyampai Pesan Sby ke Antasari Agar Jangan Tahan Aulia Pohan)

Pada periode yang sama tahun lalu, bank ini tercatat mencetak laba bersih Rp 6,63 miliar. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, tergerusnya laba perseroan diakibatkan oleh membengkaknya beban operasional selain bunga yang sebesar 54,92 persen, yaitu dari Rp 229,74 miliar pada semester I 2016 menjadi Rp 355,91 miliar. Demikian dikutip dari CNN Indonesia.

Lonjakan utamanya disebabkan oleh naiknya beban kerugian penurunan nilai aset kredit (CKPN) hampir tujuh kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari Rp 11,03 miliar menjadi Rp 87,16 miliar. (Baca: Sumanto Al-Qurtuby: Ada Tangan Amerika dalam Gaduh Politik Indonesia)

Kenaikan rugi transaksi spot dan derivatif dari Rp27 juta menjadi Rp3,91 miliar juga menambah beban operasional non-bunga. Tak cuma itu, peningkatan beban operasional nonbunga yang dibarengi dengan turunnya pendapatan non-bunga dari Rp 97,26 miliar menjadi Rp 70,37 miliar, mengakibatkan rugi operasional non-bunga sebesar Rp 285,55 miliar.

Namun pendapatan bunga bersih masih tumbuh 19,78 persen menjadi Rp 202,54 miliar sehingga menahan rugi operasional perusahaan di angka Rp 83,01 miliar. Pada semester I 2016, perusahaan masih mencatatkan laba operasional sebesar Rp 36,6 miliar. (Baca: Denny Siregar: Kita yang Durhaka Kepada Pancasila)

Ke depan, Direktur Utama MNC Bank Benny Purnomo menyatakan, akan memperkuat struktur permodalan demi mendukung ekspansi kredit. Akhir tahun ini, modal inti perusahaan ditargetkan naik menjadi Rp 2 triliun. “MNC Bank menargetkan penyaluran kredit tumbuh 13 persen year on year dengan fokus pada segmen konsumer dan ritel. Sedangkan, penghimpunan dana pihak ketiga tumbuh sekitar 10 persen yang ditekankan pada peningkatan dana murah,” terang Benny dalam keterangan resmi, Jumat (4/8). (SFA)

2 Comments

2 Comments

  1. Alika

    August 7, 2017 at 10:27 am

    debt to equity rationya masih sangat sehat dan menggambarkan perusahaannya agresif. Utang yang digubakan juga mayoritas untuk ekspansi.

  2. Anwar Yusuf

    August 7, 2017 at 10:28 am

    Yg ngerti saham justru suka dengan perusahaan seperti ini karena perusahaannya ekspansi terus secara fundamental kuat.potensi keuntungan semakin besar. Artinya nilai dari perusahaan juga semkain naik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: