Amerika

AS Kembali Keluarkan Tuduhan Hoax Pembantaian di Penjara Suriah

Kamis, 18 Mei 2017 – 11.38 Wib,

SALAFYNEWS.COM, AMERIKA – Pada bulan Februari 2017, AS berusaha untuk memanfaatkan laporan Amnesty International yang mengklaim secara rinci mengenai kekejaman di penjara Saydnaya di Suriah. (Baca: Eva Bartlett Bongkar Kebusukan Media Barat dan Pro Teroris Tentang Suriah)

Saat menggambarkan penyiksaan, penelantaran dan bahkan eksekusi massal, Amnesty Internasional lupa menyertakan bukti aktual untuk menguatkan klaimnya. Satu-satunya bukti aktual yang disertakan dalam laporan itu, hanya terdiri dari wawancara yang masih bersifat dugaan dan model penjara 3D yang dibuat di London, yang diambil melalui pencitraan satelit.

Gambar satelit itu sendiri tidak menunjukkan apa-apa selain sebuah bangunan yang menyerupai sebuah penjara.

Laporan tersebut disodorkan AS menjelang pembahasan lain yang bertujuan untuk mengatasi konflik 6 tahun yang mengerikan itu. Langkah ini memberikan amunisi baru pada Washington dan sekutunya di meja perundinganuntuk memberikan tekanan pada pemerintah Suriah. Dan sekarang -beberapa bulan kemudian- dan tepat ketika AS membutuhkan lebih banyak pengaruh, cerita Saydnaya sekali lagi dihidupkan kembali.

Departemen Luar Negeri AS tidak hanya mengulangi klaim yang penuh pendiskreditan yang sebelumnya diambil dari laporan Amnesty International. Sekarang mengklaim bahwa penjara tersebut mencakup fasilitas kremasi (yang digunakan untuk membakar tahanan) – sebuah upaya miring untuk menghubungkan pemerintah Suriah dengan penjahat sejarah seperti Nazi Jerman.

The Washington Post mencoba memberi topangan pada tuduhan yang dihidupkan kembali ini dalam sebuah artikel berjudul, “Suriah membangun kremasi untuk menangani pembunuhan massal”, yang mengklaim: Pemerintah Suriah telah membangun dan menggunakan sebuah fasilitas kremasi di penjara militer Saydnaya yang terkenal di dekat Damaskus, secara sembunyi-sembunyi membuang jenazah tahanan yang terus dilakukan di dalam fasilitas tersebut, ucap Departemen Luar Negeri pada hari Senin.

Dalam hal “bukti,” The Washington Post mengklaim “Deplu AS mendistribusikan foto satelit yang katanya mendokumentasikan pembangunan fasilitas secara bertahap di luar kompleks penjara utama dan tampak penggunaannya tahun ini. Jones mengatakan bahwa informasi yang baru saja dideklasifikasi mengenai hal ini dan kekejaman lainnya oleh Presiden Bashar al-Assad berasal dari penilaian komunitas intelijen, serta juga dari organisasi non pemerintah seperti Amnesty International dan media”. (Baca: Duet Maut Trump dan Kelompok Khilafah Hancurkan Timur Tengah)

Dengan kata lain, deplu AS sedang merujuk sebuah laporan yang kurang terpercaya dari Amnesty International yang mengakui tidak ada bukti fisik yang menguatkan klaimnya, dan foto-foto tambahan yang diambil dari pencitraan satelit.

Dalam usaha menguraikan “bukti,” Washington Post melaporkan, informasi yang baru dirilis termasuk foto satelit di area Saydnaya yang tertutup salju dengan bangunan berbentuk L “kemungkinan fasilitas kremasi.

Kata “mungkin” adalah pengakuan terbuka bahwa tidak ada bukti nyata bahwa bangunan itu sebenarnya adalah sebuah “fasilitas kremasi.” Kata “mungkin” juga berarti bahwa tidak ada bukti bahwa dugaan “praktik kremasi” sedang digunakan untuk membakar tubuh secara massal, Atau jenazah adalah hasil dari penyiksaan dan eksekusi massal.

Tidak ada badan intelijen yang bertanggung jawab yang akan menyampaikan laporan akhir yang berisi kata “mungkin,” dan yang lebih penting lagi, tidak ada departemen negara yang bertanggung jawab akan mengutip laporan yang berisi kata “kemungkinan” untuk menuduh pemerintah Suriah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. (Baca: Inilah Himbauan PPI Suriah Tentang Maraknya Berita Hoax Tentang Suriah)

Namun demikian adanya, sebuah badan intelijen yang bertugas membuat sebuah laporan dan sebuah departemen negara yang bertugas menjualnya ke masyarakat internasional. seperti yang telah dilakukan berkali-kali oleh Departemen Luar Negeri AS di masa lalu dengan mempertaruhkan kehidupan manusia dan stabilitas global – Irak, Afghanistan , dan Libya misalnya. Justru itulah yang telah terjadi lagi.

The Washington Post – kalau-kalau pembaca gagal untuk membuat koneksi ke Nazi Jerman – menghubungkan titik-titik pada penontonnya dengan menggolongkan briefing dari Departemen Luar Negeri AS sebagai “tuduhan pembunuhan massal dan tubuh yang dibakar, yang menyebabkan Holocaust.”

Sementara Departemen Luar Negeri AS dan Washington Post berusaha menggambarkan pelecehan yang terperinci untuk mengejutkan masyarakat internasional atas penghukuman Suriah, apa yang sebenarnya dilakukan adalah menggunakan taktik dengan memanggil pemerintah Suriah, “Hitler.”

Laporan Amnesty International dipublikasikan pada bulan Februari 2017. Diakui tidak menyajikan bukti aktual. Dan mempertimbangkan skala industri dugaan pembunuhan massal dan sekarang menuduh “pembakaran massal” yang terjadi di fasilitas tersebut, orang akan menganggap jaringan intelijen terbesar dan paling kuat di muka bumi dalam sejarah manusia bisa menghadirkan pada beberapa bulan kemudian sebuah laporan yang lebih substansial daripada foto yang diambil dari luar angkasa yang diberi label, “mungkin fasilitas kremasi.” (Baca: Bashar Assad Bongkar Kisah Anak di Kursi Orange “Omran Daqneesh”)

Jaringan intelijen terbesar dan paling kuat di bumi, dalam sejarah manusia gagal menemukan sesuatu yang lebih substansial, ini menunjukkan tidak ada yang bisa ditemukan dan sebaliknya. AS telah menggunakan sekali lagi untuk membuat dalih dalam campur tangan terus-menerusnya yang sudah di luar batas. Konflik-konflik besar Itu sendiri penuh rekayasa dan tidak berkesudahan, demi menuju hasil yang diinginkan oleh Washington, terutama dengan biaya semua pihak yang terlibat.

Sementara juru bicara Departemen Luar Negeri AS bersikeras bahwa “rumah jagal” Suriah diorganisir dan diatur oleh Damaskus, jelas bahwa seperti perpecahan dan penghancuran Irak dan Libya. “Rumah jagal” Suriah adalah sebuah proyek yang diselenggarakan dan diatur oleh Washington. (SFA)

Sumber: Southfront

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: