Analisis

Analis: Potensi Menjadi Suriah dan Mesir Ada di Negeri Kita

Rabu, 29 November 2017 – 09.32 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Akun facebook Awan Kurniawan membuat sebuah analisa bagus akan potensi teror di Mesir dan Suriah oleh kelompok teroris ada di negara kita ini, berikut ulasannya:

Kekerasan atas nama agama, selalu menjadi masalah utama dalam hubungan antar agama. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa ketegangan demi ketegangan terus menerus berlangsung. Mulai dari faktor teologis, sosiologis, politis hingga perebutan aset ekonomi.

This slideshow requires JavaScript.

Baca: Pesan Damai dari Denny Siregar Akan Pentingnya Persatuan dalam Keberagaman

Hasil riset tahun 2012 terhadap 110 pelaku tindakan terorisme bertema Research on Motivation and Root Causes of Terrorism oleh The Indonesian Research Team, Kementerian Luar Negeri, INSEP dan Detasemen Khusus 88 Kepolisian Indonesia.

Ditemukan data yang menunjukkan, 4,3 persen pelaku terorisme adalah mereka yang masih muda belia dengan usia rata-rata 21-30 tahun. Hasil yang lebih mengejutkan, dari tingkat jenjang pendidikan umumnya pelaku terorisme adalah kalangan muda dan pendidikan SMA sebanyak 63,6 persen.

Penelitian pada 2015 oleh Setara Institute yang mengambil SMU di Jakarta dan Bandung, ketika ditanya mengenai ISIS sebanyak 36,2 persen responden mengatakan ISIS sebagai kelompok teror yang sadis. Kemudian, 30 2 persen responden menilai pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama, dan 16,9 persen responden menyatakan ISIS adalah pejuang-pejuang yang hendak mendirikan Negara Islam.

Hasil survei terbaru Pada November 2017 dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukkan pengaruh intoleransi dan radikalisme menjalar ke banyak sekolah dan universitas di Indonesia.

Baca: Suriah Hancur Karena Isu Agama Dibenturkan dengan Pemerintah dan Kebhinekaan

Menurut survei ini, terdapat 51,1 persen responden mahasiswa/siswa beragama Islam yang memiliki opini intoleran terhadap aliran Islam minoritas, yang dipersepsikan berbeda dari mayoritas, seperti Ahmadiyah dan Syiah. Selain itu, 34,3 persen responden yang sama tercatat memiliki opini intoleransi kepada kelompok agama lain selain Islam.

Survei ini juga menunjukkan sebanyak 48,95 persen responden siswa/mahasiswa merasa pendidikan agama mempengaruhi mereka untuk tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. Lebih gawat lagi, 58,5 persen responden mahasiswa/siswa memiliki pandangan keagamaan pada opini yang radikal.

Tidak hanya siswa, survei ini menyimpulkan guru dan dosen juga memiliki potensi menjadi intoleran. Menurut survei ini, setidaknya 64,66 persen guru dan dosen menjadikan Ahmadiyah di urutan pertama sebagai aliran Islam yang tidak disukai. Diikuti Syiah di posisi kedua dengan 55,6 persen. Selain itu, 44,72 persen guru dan dosen juga tidak setuju dengan desakan agar pemerintah harus melindungi penganut Syiah dan Ahmadiyah.

Survei ini menggunakan alat ukur kuesioner digital dan implicit association test terhadap 1.522 siswa, 337 mahasiswa, dan 264 guru di 34 provinsi. Setiap provinsi diwakili oleh satu kabupaten dan satu kota yang dipilih secara acak. Survei dilakukan dalam rentang waktu 1 September sampai 7 Oktober 2017.

Baca: Denny Siregar Bongkar Siapa Para Penyusup dalam Islam

Deretan hasil riset tersebut menyiratkan bahwa meski kecil potensi untuk munculnya pelanggaran kebebasan dan kekerasan atas nama agama namun potensi tersebut tetaplah ada dan cenderung menajam. Sehingga penting di sini, untuk membangun persepsi bersama tentang hidup dalam sebuah kesepakatan dalam kebangsaan. Tugas ini masih berat kawan, jangan lelah!!! (SFA)

Sumber: Bebagai Sumber

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: