Analisis

Analis Kritisi Laporan Media Terkait Propaganda Busuk Media Barat di Ghouta Timur

Selasa, 27 Februari 2018 – 07.16 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Dina Y. Sulaeman, salah satu analis Timur Tengah yang sebelumnya menulis tentang siapa dibalik teror di Ghouta Timur, dan saat ini Dina membuat kritikan menarik terhadap media-media yang memberitakan tentang krisis di Ghouta Timur, berikut ulasannya:

Baca: Benang Merah Konflik Suriah ke Indonesia

Saya akan mengambil contoh kasus, berita yang dirilis DW (media Jerman) berjudul “UN pleads for ceasefire in Syria’s Ghouta as over 300 dead in strikes”. Mengapa bukan berita media Indonesia? Karena, media sekelas DW biasanya dianggap valid/credible. Sementara, media-media mainstream di Indonesia umumnya hanya menggunakan berita terjemahan /tulis ulang berita dari media Barat. Untuk koran Kompas, biasanya mengaku menggunakan “jurnalis” dari Timteng, yaitu Mustafa Abd Rahman. Dia tinggal di Kairo, tidak meliput langsung ke Suriah. Jadi sebenarnya yang dia lakukan sama saja: menerjemahkan/menulis ulang berita dari media lain (cuma kesannya jadi “keren” karena tulisan dia dikirim dari Kairo; tapi keren tidak sama dengan valid).

Langkah pertama saat membaca berita, perhatikan sumbernya: apakah DW meliput langsung ke lapangan? TIDAK, media Jerman ini hanya mengutip dari Reuters, AFP, dpa, AP. Jadi sekelas DW pun sebenarnya sama saja seperti koran-koran Indonesia.

Lalu perhatikan narasumber yang dikutip dalam berita, ternyata SOHR (Syrian Observatory for Human Rights). Ini adalah lembaga yang hanya ditangani 1 orang, Rami Abdul Rahman, dari kantor merangkap apartemennya di Ingggris. SOHR memang selalu jadi rujukan oleh media mainstream mengenai berbagai kejadian di Suriah. Meskipun berkantor di Inggris dan tidak mengirim “jurnalis” ke Suriah, SOHR selalu paling tahu berapa orang yang tewas atau luka, gedung-gedung apa saja yang hancur, dll. Siapa sumber data SOHR? Tak lain, para pemberontak alias teroris (tapi biasanya digunakan istilah ‘aktivis’).

Baca: Organisasi Dokter Swedia Bongkar Tipuan Busuk White Helmets di Suriah

Jadi, sebenarnya apapun yang disampaikan SOHR perlu verifikasi dari wartawan yang dikirim langsung ke Suriah. Anehnya, sekelas Kanselir Merkel pun sudah berani mengeluarkan pernyataan “ada pembantaian massal di Ghouta”.

(FYI, pemberi dana SOHR adalah George Soros, yang tahu mengenai masa krisis ekonomi Indonesia 1998, pasti kenal nama ini)

Lalu, perhatikan kalimat pertama setelah judul: “PBB telah menyerukan agar “rezim” menghentikan serangannya terhadap daerah yang dikuasai pemberontak di Ghouta timur, sebelum sidang DK PBB. Kanselir Jerman, Angela Merkel, telah mendeskripsikan serangan ini sebagai ‘pembantaian massal’.

Baca: Denny Siregar: Suriah Kecil itu Bernama Indonesia

Di sini saja, kita sudah bisa menyimpulkan bahwa inilah poin utama yang ingin disampaikan DW: ada pembunuhan massal di Suriah, dilakukan oleh “rezim”. Dan kalimat-kalimat selanjutnya lebih banyak mengutip pernyataan pejabat Jerman, Rusia, dan PBB. Sama sekali tidak ada slot untuk menyampaikan bagaimana pandangan pemerintah Suriah, apa proposal yang mereka tawarkan, apa bantahan dari mereka atas tuduhan ‘pembunuhan massal’?

Di kalimat terakhir, baru pihak pemerintah Suriah disebut: ‘Tentara Suriah menuduh (accuses) bahwa pemberontak di Ghouta timur menembakkan mortar ke Damaskus dan menyebabkan kematian.”

Perhatikan, DW berpanjang-lebar dengan ‘penuh keyakinan’ tentang ‘pembunuhan massal’ yang dilakukan rezim (dengan sumber SOHR, dan kutip dari media lain, tidak mengirim jurnalis ke lapangan). Tapi menceritakan apa yang dilakukan pemberontak hanya dalam 1 kalimat, itu pun dengan frasa “tentara Suriah menuduh”. Frasa ini menunjukkan sesuatu yang belum pasti, bisa benar-bisa tidak.

Artinya, DW sama sekali tidak berusaha mengkonfirmasi apakah benar ada jatuh korban akibat tembakan mortar para pemberontak? DW juga mengabaikan logika orang sehat: trus kau pikir para teroris di East Ghouta itu duduk-duduk manis saja selama 4 tahun terakhir, dengan segala perlengkapan tempur canggih yang mereka miliki, mulai dari tank sampai misil jarak jauh?! (lihat video di kolom komen pertama, supaya tahu ngapain aja mereka).

Baca: Zainul Muttaqin: White Helmets Penghancur Suriah Resmi Masuk Indonesia

Terakhir, DW juga mengupload video. Ternyata, liputan dari ‘lapangan’ yang ditampilkan adalah footage produksi Syria Civil Defence (White Helmets). Saya sudah berkali-kali menulis soal WH, mereka ini sebenarnya anggota kelompok teroris tapi berbaju relawan.

Ok, segini saja. Sebenarnya banyak lagi yang bisa saya kritisi, tapi nanti kepanjangan, capek bacanya.

Pesan saya: pengetahuan yang benar tentang konflik Timteng ini sebenarnya demi kepentingan kita (Indonesia). Karena, para “mujahidin” Suriah itu berafiliasi dengan organisasi-organisasi transnasional yang punya cabang di Indonesia, antara lain Al Qaida, Hizbut Tahrir, dan Ikhawanul Muslimin. Silahkan lacak orang-orang yang aktif mendukung “jihad” Suriah, pasti orang-orang (termasuk ustadz/ah) yang terafiliasi dengan salah satu kelompok itu. (SFA)

Sumber: Akun Fanpage Facebook Dina Sulaeman

1 Comment

1 Comment

  1. syamsuri

    February 27, 2018 at 3:18 pm

    mantap sekali analisa mba dina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: