Amerika

Analis: Koalisi Internasional dan Permainan Busuk AS di Suriah

Kamis, 15 Februari 2018 – 07.33 Wib,

SALAFYNEWS.COM, KUWAIT – Daham Al-Qahtan, penulis dan analis politik Kuwait, mengatakan bahwa koalisi internasional dalam melawan ISIS telah mengkuti kebijakan Washington.

Al-Qahtan mengatakan dalam sebuah wawancara dengan program “Between The Lines” yang disiarkan di radio Sputnik bahwa, “pertemuan koalisi internasional melawan ISIS di Kuwait pada hari Selasa (13/02) adalah pertemuan ketiga sejak kekalahan organisasi teroris ISIS di Raqqa Suriah”.

Baca: Wajah Busuk Amerika di Suriah, AS Latih Militan Baru untuk Perangi Assad dan Rusia

Al-Qahtan menegaskan bahwa pertemuan pada hari Selasa (13/02) adalah untuk mengembangkan strategi internasional untuk membasmi organisasi-organisasi teroris dimana Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengungkapkan tentang pentingnya menghentikan keberlangsungan “ISIS” terutama di Afghanistan setelah kekalahannya di Suriah dan Irak.

Namun berbeda dengan Al-Qahtan, Dr. Bassam Al-Tahan, profesor geografi politik di Universitas Sorbonne menganggap bahwa pernyataan Tillerson yang menyebutkan bahwa koalisi internasional mampu membasmi 98% militan ISIS saat Konferensi Kuwait adalah sebuah kebohongan.

Al-Tahan bertanya-tanya “Jika ini adalah fakta, lalu apa alasan koalisi internasional masih bertahan di Suriah dan Irak?”. Ia juga mengatakan bahwa di belakang koalisi ini, ada ambisi AS yang mengincar kekayaan minyak Suriah, serta upaya Washington untuk menghadapi Rusia yang ikut berperang dengan persetujuan Damaskus.

Baca: Analis: Perseteruan di Timur Tengah Antara Iran VS Saudi, atau Iran VS Amerika Serikat?

Profesor geografi politik ini mengatakan bahwa negara-negara yang tergabung dalam koalisi internasional dan koalisi Arab di Yaman sesungguhnya telah menjalankan kebijakan kolonial di dalam apa yang mereka sebut sebagai “permainan Amerika” untuk memperoleh bantuan finansial atau bahkan bantuan politik, di mana hal ini menjelaskan bahwa negara-negara ini tidak memiliki kebijakan independen dan hanya mengikuti kebijakan Amerika Serikat”.

Baca: Komentar Pedas Rusia kepada Amerika: Militer AS di Suriah Seperti Pendudukan

Sementara itu, Kamel al-Beheiry, seorang peneliti di Pusat Studi Politik dan Stratagis Al-Ahram mengatakan bahwa “anggota-anggota teroris ISIS di Mosul tidak banyak yang meninggalkan Mosul, karena mereka adalah warga asli Irak, mereka yang berpindah adalah sebatas kelompok pemimpin kelas kedua yang pergi ke daerah konflik baru seperti Somalia, Sinai dan Libya. Ia menambahkan bahwa “lebih dari 90% anggota teroris ISIS masih berada di Suriah dan Irak”. (SFA/Arabic.SputnikNews)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: