Internasional

Anak-anak Terancam Terkena Penyakit Akibat Krisis Air Parah di Suriah

Minggu, 08 Januari 2017 – 01.10 wib,

SALAFYNEWS.COM, WASHINGTON – Organisasi Internasional PBB untuk Anak-anak (UNICEF) mengungkapkan bahwa anak-anak Suriah beresiko menderita penyakit yang ditularkan melalui air di ibukota Suriah Damaskus, dimana 5,5 juta jiwa mengalami kekuarangan air parah selama dua pekan ini. (Baca: Ron Paul; AS Abaikan Krisis Suriah Selama Enam Tahun)

Juru bicara UNICEF, Christoph Bulirak mengatakan pada hari jumat (06/01) bahwa “terdapat kekhawatiran tentang resiko penyakit yang ditularkan melalui air terhadap anak-anak Suriah”.

Bulirak menjelaskan bahwa “dua sumber utama air di Wadi Barada di pedesaan barat ibukota Damaskus telah rusak akibat pertempuran yang terjadi di wilayah tersebut”.

Bulirak mengatakan bahwa “penduduk di wilayah tersebut beralih dengan membeli air yang tidak diketahui sumbernya dari pemasok swasta dengan harga yang tinggi”.

Sementara itu, tim dari UNICEF telah mengunjungi sejumlah sekolah di Damaskus dan melihat langsung bahwa bagaimana anak-anak malang Suriah harus pergi ke masjid-masjid atau ke titik distribusi bantuan terdekat dengan berjalan kaki untuk memperoleh air, dan mereka harus menghabiskan waktu setengah jam untuk sampai ke sana, lalu setelah itu mereka harus kembali bersabar menunggu hampir dua jam dalam barisan antrian untuk memeperoleh air di tengah cuaca yang sangat dingin”.

Pejabat PBB menyerukan kepada seluruh pihak yang berperang di Suriah untuk melindungi bangunan infrastrukur negara termasuk jaringan pemasok air. (Baca: Kanselir Jerman ‘Angela Merkel’: Rusia yang dapat Selesaikan Krisis Suriah)

UNICEF telah menyediakan generator untuk memompa air yang membutuhkan 15.000 liter bahan bakar setiap harinya untuk memasok kepada 3.5 juta orang dengan 200.000 meter kubik air minum perhari.

Pada tanggal 29 desember 2016 lalu PBB menyatakan bahwa dua sumber utama air di ibukota Damaskus Suriah yakni Wadi Barada dan Ein Al Fejeh telah rmengalami kerusakan berat dan tidak mampu memasok air dikarenakan menjadi “target tidak sengaja” dari pertempuran yang terjadi di wilayah tersebut, meskipun begitu PBB menolak untuk mengungkapkan pihak mana yang bertanggung jawab atas kerusakan tersebut.

Sementara itu, pada hari kamis (05/01) Jen Egeland, penasihat urusan keamanusiaan utusan PBB untuk Suriah mengatakan bahwa “merampas akses air bagi seseorang atau penghancuran dengan sengaja terhadap jaringan pemasok air adalah sebuah kejahatan perang”. Ia mengatakan bahwa kerusakan pada instalasi air di Suriah sangatlah parah dan perlu perbaikan besar, tetapi Egeland mengungkapkan bahwa ia telah meminta kepada PBB mengirim tim pemeliharaan untuk menghadapi “berbagai masalah” termasuk memperoleh persetujuan dari Departemen Luar Negeri, Kantor Gubernur, Badan Keamanan dan pihak yang berperang.

Adapun Wadi Barada adalah wilayah yang paling banyak menyaksikan pelanggaran dari kesepakatan gencatan senjata yang telah dicapai pada 30 desember lalu atas prakarsa Turki dan Rusia, dikarenakan adanya kelompok teroris Jabhat al-Nusra di wilayah tersebut. (SFA)

Sumber: Arabic.rt

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: