Fokus

Ahmad Zainul Muttaqin: Palestina dan 2 Milyar Buih

Jum’at, 23 Juni 2017 – 18.45 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Apa yang kau ingat dari negara ini? Sudah hampir 70 tahun terjajah dan kondisinya semakin buruk, wilayahnya semakin tergerus, mayoritas penduduknya telah mengungsi, dan posisinya tinggal sejengkal lagi untuk menjadi sejarah. Padahal mereka (katanya) memiliki 2 milyar saudara muslim di dunia. (Baca: Imam Masjid al-Quds; Arab Saudi Poros Fitnah dan Sumber Malapetaka)

Katanya saudara, katanya muslim, satu bagian tubuh sakit maka sakit semua sekujur tubuh, nyatanya hanya jadi slogan kosong di mimbar-mimbar.

Sebagian mimbar-mimbar hari ini bukan lagi diisi seruan untuk membela mereka yang terzalimi, tapi jadi ajang pengkafiran, provokasi, penggalangan dana untuk hal-hal yang menjauhkan dari Palestina.

Dana-dana yang seharusnya diarahkan untuk menolong rakyat Palestina malah dialihkan untuk penggalangan fulus pada para pemberontak Suriah yang dibacking Israel, yang notabene bertujuan untuk menghancurkan Suriah, satu-satunya negara Arab yang sampai hari ini menolak menandatangani perjanjian damai dengan Israel. (Baca: Demo Al-Quds : Suara Keadilan Muslim atas Penjajahan Zionis)

Apa yang dilakukan umat islam 2 milyar itu?

Sebagian kecil ada yang benar-benar berbuat untuk Palestina. Sebagian hanya diam, yang penting tahu Israel itu jahat dan Palestina itu terzalimi. Sebagian lagi salah jalan ingin bersimpati pada Palestina sambil memuja rezim monarki di tanah Hijaz yang Pangerannya (Turki Al Faisal) berjabat mesra dengan Menteri Pertahanan Israel Moshe Ya’alon di Munich Security Conference.

Inilah kerajaan yang memutus hubungan dengan Qatar dan melarang segenap warganya untuk umroh dan mensyaratkan pemutusan sokongan Qatar untuk Hamas bila ingin perbaikan hubungan. Kerajaan diktator yang menamai negeri kelahiran Rasulullah dengan nama fam keluarganya sendiri (Saudi), yang tokoh anti Zionis George Galloway pernah membuat lelucon sindiran bahwa pemimpin sediktator Kim-Jong Il pun tidak pernah mengganti nama Korut menjadi “Kim-Jong Il-iyah” misalnya.

Dua milyar umat disorientasi pemikiran tentang Palestina. Di satu sisi berkata membela Palestina dengan slogan membela islam, membela solidaritas saudara muslim dari penjajah Israel. Di sisi lain seakan lupa ketika menyebut nama “Palestina” maka mereka juga menyebut 7% warganya yang beragama Kristen (tahun 1950 mencapai 15%). (Baca: Pengadilan Israel Jatuhkan Hukum 6 Tahun Penjara Pada Gadis Kecil Palestina)

Itu artinya apa? Israel bukan hanya menindas umat islam, tapi juga menindas 1 juta umat Kristiani Palestina, bahkan juga sebagian Yahudi Orthodox Palestina yang menolak berdirinya negara Yahudi lewat Zionisme dan Yinon Plan.

Jangan pernah lupakan fakta bahwa pendiri kelompok muqawwamah PFLP (Front Populer untuk Pembebasan Palestina) adalah George Habash yang beragama Kristen dan berasal dari pergerakan nasionalis Arab. Dan jangan pernah lupakan fakta bahwa Suha Daud Thawil, istri Alm Presiden Palestina Yaser Arafat adalah seorang Kristen Katolik.

Lebih ironis lagi, sebagian umat 2 Milyar ini membela Palestina dengan meniru gaya Israel. Setiap mendengar berita “mujahidin islam” menghancurkan gereja mereka bersorak, setiap aksi-aksi militan anti Kebhinekaan mereka terdepan, seakan mereka lupa sudah berapa banyak gereja yang dihancurkan Israel saat melakukan ekspansi pendudukan di wilayah Palestina.

Mereka juga seakan lupa bahwa Palestina bukan negara Islam, tapi negara yang Bhinneka dan hidup rukun antara Muslim-Kristen-Yahudi sejak ribuan tahun di tanah itu.

Mereka lupa bahwa Syaikh Ahmad Yassin pendiri Hamas berkata “Demi Allah kami tidak membenci Yahudi dan kami tidak memerangi Israel karena mereka Yahudi. Mereka adalah umat beragama, begitu juga kami. Yang kami lawan adalah penindas yang mengusir kami dan membuat kami menjadi pengungsi dari tanah-tanah kami. Sejak dulu kami (muslim), Kristen dan Yahudi hidup dalam kerukunan”.

Sekali lagi ingat, beliau mendirikan Hamas bukan untuk mendirikan negara Islam, tapi melawan Zionisme, dan untuk mengembalikan Palestina, negara nasionalis, bukan Khilafah.

Amatlah lucu, ketika Hizbut Tahrir kelompok yang berdiri 64 tahun lalu di Al-Quds Palestina dan selalu meneriakkan Khilafah hari ini kantor pusatnya justru berada di London. Yang berslogan ingin mendirikan negara Islam di tanah tsb, menyaingi negara Yahudi yang berdiri disana. Jika Zionisme ingin mendirikan negara Yahudi, kelompok ini ingin mendirikan negara Islam. Sama-sama ingin mendirikan negara ashobiyyah berdasar komunitasnya sendiri. Api dibalas api, padahal bukan itu yang dibutuhkan Palestina.

Ironisnya walau berdiri di Palestina, kelompok ini nyaris tidak punya nilai perjuangan strategis sama sekali dalam melawan Zionis. Lebih ironis lagi, yang banyak menyuplai persenjataan dan insinyur pada gerakan muqawwamah Palestina semacam Hamas, Fatah, Jihad Islam & PFLP justru adalah Iran dan Suriah yang sering disebut sesat dan kafir oleh para syabab HT.

Di Palestina, kelompok ini doyan meneriakkan slogan anti demokrasi yang dijunjung sebagian besar faksi-faksi Palestina serta mengutuk Hamas dan Fatah. Bahkan pada 2009 para syabab kelompok ini ditangkap oleh Hamas. Belum lagi masalah mereka dengan faksi PFLP dan Jihad Islam Palestina yang lebih moderat.

Kita harus memuji orang-orang yang benar berjuang untuk Palestina, walau penampakan mereka tak seberapa religius atau bahkan berasal dari kaum yang disesatkan dan fakta perjuangan mereka diingkari.

Diantara mereka ada yang muslim, ada yang non-muslim. Termasuk yang tidak akan pernah kita lupakan seorang aktivis muda kemanusiaan bernama Rachel Corrie yang tewas dilindas buldozer Israel saat menghalangi buldozer tsb menghancurkan rumah-rumah warga Palestina di Gaza. Siapa yang menyangka bahwa ternyata Rachel lahir dan besar di tengah keluarga Kristen Lutherian yang taat?

Ya, kemanusiaan adalah kata yang menembus lintas suku dan agama.1.400 tahun lalu tokoh agung umat manusia Imam Ali (Karamallahu Wajhahu) telah berkata, “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”. Alangkah lucu ketika sebagian umat islam terjangkiti virus fanatisme golongan, justru Rachel Corrie yang menjalankan quote Imam Ali ini.

Sangat banyak yang ingin saya tulis, tapi saya batasi sampai disini.

Jika ada non-muslim yang mengorbankan nyawa untuk Palestina, ya sewajarnya kita yang muslim malu ketika Palestina hanya sekedar jadi penyedap di ujung lidah, sementara yang kita lakukan tak lebih dari perwujudan Bigotry yang menjauhkan kita dari mereka. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Ahmad Zainul Muttaqin

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: