Amerika

Administrasi Trump Jatuhkan Sanksi Baru Terhadap Iran

Kamis, 20 Juli 2017

SALAFYNEWS.COM, WASHINGTON – Sebuah langkah mengejutkan, Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin telah mengumumkan sanksi baru terhadap Iran.

Langkah ini tidak sepenuhnya mengejutkan, mengingat catatan administrasi Trump yang suka berseteru terhadap Republik Islam Iran tersebut.

Sanksi tersebut menargetkan 16 “entitas dan individual” bagi dukungan penyediaan kepada Korps Garda Revolusi Iran atau kemiliteran Iran, atau karena diduga terlibat dalam kegiatan kriminal.

Mengenai target sanksi tersebut, Mnuchin menyatakan, “Sanksi ini menargetkan pengadaan perangkat keras militer tingkat lanjut, seperti kapal cepat dan kendaraan udara tak berawak, juga ada sinyal kuat bahwa Amerika Serikat tidak dapat dan tidak akan mentolerir perilaku provokatif dan destabilisasi Iran.”

Mnuchin gagal menjelaskan mengapa akuisisi UAV dan “kapal cepat” oleh Iran memenuhi syarat sebagai “perilaku yang tidak stabil”, namun dapat diterima sepenuhnya oleh negara lain di dunia.

Mnuchin melanjutkan administrasi ini akan terus menargetkan secara agresif aktivitas jahat Iran, termasuk dukungan negara yang sedang berlangsung terhadap terorisme, program rudal balistik, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Tidak disebutkan adanya dukungan internasional Arab dan negara Teluk lainnya untuk terorisme Islam, atau pelanggaran hak asasi manusia secara besar-besaran dan terkenal di negara Teluk sekutu Amerika.

Tidak ada yang menyebutkan bahwa empat peristiwa paling tidak stabil di wilayah ini adalah 1) perang di Suriah, yang dimulai oleh AS dan sekutu-sekutunya di Teluk, 2) ISIS, yang meningkat berkat ketidakstabilan yang diciptakan oleh AS di Suriah dan Irak, 3) embargo dan ancaman perang terhadap Qatar sebagai kambing hitam terpilih untuk dukungan teror negara-negara Teluk, 4) perang yang dipimpin Saudi di Yaman.

Dan masalah wilayah Palestina yang dijajah tetap belum terselesaikan, sehingga menimbulkan rasa sakit yang membara karena ketidakpuasan dan kebencian di wilayah tersebut.

Iran tidak bertanggung jawab atas hal ini, dan tidak ada contoh apapun yang dapat ditunjukkan untuk dukungan terorisme di Iran. Kritikus akan memberi nama bantuan Iran kepada milisi Lebanon Hizbullah – namun organisasi ini hampir tidak dapat digambarkan sebagai mempraktikkan taktik teroris saat ini, meskipun AS dan Israel menetapkannya sebagai itu.

Administrasi Trump mengambil tindakan tersebut meski baru kemarin menyatakan bahwa Iran sepenuhnya mematuhi kesepakatan nuklir yang ditandatangani dengan AS dan negara lainnya.

Menteri luar negeri Iran Mohammad Javad Zarif telah berada di New York selama beberapa hari dan juga kemarin, hadir di Dewan Hubungan Luar Negeri dan memberikan sebuah wawancara yang sangat damai yang dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab.

Tampaknya dia tidak banyak mendapatkan kepercayaan dari Departemen Keuangan bagi negaranya. [Sfa]

Sumber: The Duran.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: