Analisis

Abu Janda Al-Boliwudi: Kelompok Khilafah, Wahabi, Teroris Serang Pemerintah, TNI dan POLRI

24 Maret 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Tokoh dunia maya Abu Janda Al-Boliwudi, seorang tokoh yang sering kali ikut bantu pemerintah dan negara dalam memerangi Khilafah, Wahabisme dan Terorisme di dunia Maya, Abu Janda memberikan ulasan tentang bahaya Khilafah, Wahabi dan Teroris yang sering ganggu stabilitas negara dengan berbagai cara. Berikut tulisan Abu Janda Al-Boliwudi: (Baca: Kelompok Pro Khilafah Wahabi Anti NKRI Lebih Bahaya daripada Candaan Zaskia Gothik)

MARI BERDOA SEJENAK

Jokowi dan TNI, POLRIPagi ini Ustad mau mengajak para Santri ponpes al-facebooki untuk mengheningkan cipta sejenak atas gugurnya 13 Pahlawan di Poso, kirim doa untuk para putra bangsa, semoga amal ibadah mereka diterima disisi-Nya, berdoa dimulai..

Dukacita mendalam untuk 13 anggota TNI AD yang berpulang dalam musibah jatuhnya Helikopter yang sedang terbang menuju Poso untuk bergabung dengan operasi “Tinombala” pengepungan teroris ISIS grup Santoso.

Kecelakaan terjadi setelah Helikopter AS tipe Helly Bell baru mengudara beberapa menit, diduga disebabkan oleh cuaca buruk dan kerusakan teknis, menewaskan seluruh rombongan Komandan Korem (Danrem).

COUNTER TERORISME ERA JOKOWI

Sejak lahirnya ISIS, terorisme berubah wajah dari hanya sekedar serangan teror dan vandalisme sporadis menjadi gerakan KHILAFAH GLOBAL melibatkan berbagai elemen, tak hanya pelaku teror, tapi juga ulama pendukung, media, tim cyber, tokoh selebritis sampai parpol. (Baca: GAWAT.. ISIS Aktif Sebarkan Propaganda ‘Khilafah’ di Sejumlah Masjid di Jakarta)

KH Cholil Ridwan

Semua bekerja demi satu tujuan, yakni: MERADIKALISASI umat Muslim dunia melalui program cuci otak sistematis terstruktur dan massif dengan doktrin “Mati demi jihad memerangi Kafir dan mendirikan Khilafah”.

KRONOLOGI RADIKALISASI DI INDONESIA

Berbagai elemen pendukung mulai bergerak sejak pertengahan tahun 2014 menebar propaganda “JIHAD dan KHILAFAH” mempromosikan ISIS di tanah air melalui berbagai pengajian, tablig akbar, seminar, situs internet, sampai berbagai media sosial. (Baca: Banser: Semua Gerakan Anti NKRI Wajib Ditolak dan Dilawan Termasuk Khilafah)

Bachtiar Nasir

Itu baru elemen pendukungnya saja.. di lapangan, grup teroris ISIS mulai dibentuk di Poso. Berdasarkan pernyataan Kapolri Jendral Sutarman pada DESEMBER 2014, ISIS berkolaborasi dengan Grup teroris Santoso (Abu Wardah) di Poso melakukan perekrutan, mensuplai senjata dan latihan.

CNN: Kapolri, ISIS kerjasama dengan Grup Santoso di Poso

Pernyataan pak Kapolri bukan teori semata, tapi berdasarkan penangkapan 4 WN (warga negara) turki terkait ISIS di Poso pada SEPTEMBER 2014. Keempat warga Turki anggota ISIS tersebut ditangkap saat akan naik ke gunung di wilayah Poso.

TEMPO: 4 WN Turki Terkait ISIS ditangkap di Poso

Membaca gelagat buruk ini, Presiden Jokowi mengambil langkah BERANI dengan memberikan komando kepada TNI dan POLRI agar menjadikan ISIS sebagai MUSUH UTAMA RI, dideklarasikan pada awal MARET 2015.

Abu Jibril Anti Pancasila

Mengapa berani? Karena ISIS adalah organisasi teroris SAWAH (Salafi Wahabi) yang DIDANAI Arab Saudi yang punya lobby kuat di tanah air. Ditambah situasi panas di Timur Tengah antara KUBU Arab Saudi (Wahabi) VS. KUBU Iran (Syiah) di medan tempur Suriah, pernyataan Jokowi dianggap sebagai sebuah “keberpihakan”.

Kebijakan Jokowi ANTI ISIS (anti Wahabi) memicu terjadinya gerakan ANTI PEMERINTAH yang digaungkan oleh parpol, ormas dan berbagai elemen SAWAH (Salafi Wahabi) yang berafiliasi dengan Arab Saudi.

VIVA: Presiden ingatkan Musuh Utama adalah ISIS

Gerak cepat, Panglima TNI Jenderal Moeldoko segera menindak lanjuti komando RI I, mulai atur strategi turunkan personel lapangan untuk gempur “Pejuang” ISIS yang telah bermarkas di Poso. Sebuah rencana yang akan direalisasikan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

REPUBLIKA: Panglima TNI, Pejuang ISIS Bermarkas di Poso

Akhir MARET 2015, penyerbuan TNI berkamuflase “latihan” gempur malam sarang persembunyian dan kamp pelatihan teroris ISIS grup Santoso pun dimulai. Operasi yang melibatkan satuan elit Marinir Denjaka dan Taifib ini berhasil menewaskan komandan teroris Daeng Koro.

VIVA: Ribuan Prajurit TNI Gempur Sarang ISIS di Poso

Pada waktu yang hampir bersamaan, BNPT atas intruksi Presiden meminta KOMINFO Blokir 22 situs SAWAH penebar HOAX dan pendukung teroris seperti arrahmah, voa islam, dakwatuna, eramuslim, nahimunkar, dkk. Sayangnya tak bertahan lama karena dipolitisir oleh kubu oposisi sebagai kebijakan “anti Islam”.

KOMINFO: BNPT minta Blokir 22 Situs Radikal

Beberapa putra terbaik bangsa pun gugur saat menggempur ISIS di medan tempur Poso. Salah satunya anggota TNI (alm) Serka Zainudin, Bat.Inf 712 KODAM VII yang tewas di Poso ditembak teroris ISIS grup teroris Santoso akhir NOVEMBER 2015.

TEMPO: Bentrok dengan Grup Santoso, Prajurit TNI Gugur

Serangan ISIS di Sarinah Jakarta pada JANUARI 2016 adalah “counter offensive” (serangan balik) atas gempuran TNI ke sarang mereka di Poso. Tak lama setelah serangan, organisasi pusat ISIS di Timur Tengah pun mengakui bertanggung jawab atas teror di Jakarta

TEMPO: ISIS Akui Tanggung Jawab Teror Jakarta

Sebagai respon dari serangan ISIS di Sarinah, Kapolri Jendral Badrodin Haiti pun langsung mengajukan pengesahan REVISI UU TERORISME NO.15/2003 ke DPR yang akan memberikan wewenang untuk menangkap tak hanya pelaku aksi teror, tapi juga melakukan PENCEGAHAN DINI.

Pencegahan dini dengan menjerat “perbuatan persiapan” termasuk penyebaran doktrin, ajakan berbai’at pada Khilafah, ceramah provokatif, ujaran kebencian dan hasutan SARA. Bila disahkan nanti, tak hanya pelaku teror, tapi juga ulama, ustadz, ormas, selebritis, figur medsos, yang ANTI NKRI bisa masuk bui.

TEMPO: Revisi UU Terorisme, Tak Akui NKRI Berujung Bui

Pada saat anda membaca ini, TNI bersama DENSUS 88 sedang mengepung persembunyian ISIS grup Santoso yang semakin terjepit di Poso. Ini adalah COUNTER TERORISME ERA JOKOWI. Responsif, agresif dan tegas.

Menjelaskan begitu kuatnya sentimen ANTI PEMERINTAH disebar oleh kaum intoleran yang rata-rata beraliran SAWAH (Salafi Wahabi) dan berafiliasi (mendapat dana) dari Arab Saudi. (Baca: WASPADALAH.. Pengajian ‘Setan’ Kelompok Khilafah HTI dan Wahabi)

BRAVO PAK JOKOWI, BRAVO TNI dan POLRI, BRAVO DENSUS 88, Ustad Abu Janda al-Boliwudi (Aktivis Anti Terorisme since 2004 ), ‪#‎SayNoToTerrorism, ‪#‎SayNoToWahhabism. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Abu Janda Al-Boliwudi

4 Comments

4 Comments

  1. arifin

    March 25, 2016 at 8:07 am

    Berdakwah dg terbuka, damai, demokratis saja.
    Faqir miskin dipelihara negara.

  2. Pingback: Inilah Misteri Kelompok Khilafah Anti NKRI Serang Densus 88 Dan NU | SALAFY NEWS

  3. Pingback: Fakta Penembakan Siyono, Bukti Media Radikal Pro Teroris dan Serang POLRI | ArrahmahNews

  4. Pingback: Fakta Media Radikal Pro Teroris Hancurkan Islam dan NKRI | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: