Headline News

Abaikan Tuntutan Saudi, Qatar Pererat Hubungan dengan Iran

Kamis, 06 Juli 2017 – 06.57 Wib,

SALAFYNEWS.COM, QATAR – Menteri luar negeri Qatar telah menekankan bahwa negaranya membutuhkan hubungan yang sehat dan konstruktif dengan Republik Islam Iran, dibandingkan dengan daftar tuntutan 13-poin dari Arab Saudi dan sekutu-sekutunya. (Baca: Koalisi Baru Timur Tengah “Iran, Turki, Irak, Suriah, Rusia, Qatar” Segera Terwujud)

Berbicara di Chatham House, think tank urusan internasional di London pada hari Rabu, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan Qatar dan Iran harus hidup berdampingan, dan menegaskan bahwa kedua negara berbagi ladang gas raksasa.

Lapangan gas Pars Selatan, yang terletak di Teluk Persia, menampung sebagian besar cadangan gas alam Iran. Lapangan bersama -yang disebut lapangan Kubah Utara di Qatar- adalah ladang gas terbesar di dunia dengan perkiraan cadangan 51 triliun meter kubik gas alam dan sekitar 50 miliar barel kondensat. Para ahli percaya bahwa lapangan memiliki cadangan yang dapat dipulihkan lebih banyak daripada gabungan bidang lainnya.

Al Thani selanjutnya mengecam Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain karena “agresi yang jelas” terhadap negaranya, dimana perwakilan mereka bertemu di Kairo untuk membahas tindakan lebih lanjut melawan kerajaan Teluk Persia yang kaya akan gas. (Baca: Gagal Tekan Qatar, Saudi Cs Perpanjang Batas Waktu Hingga 48 Jam Berikutnya)

Diplomat senior Qatar menyatakan bahwa langkah yang diambil baru-baru ini oleh sejumlah negara Arab untuk memutuskan hubungan diplomatik mereka dengan Doha dan menutup perbatasan serta wilayah udara mereka “dirancang secara jelas untuk menciptakan sentimen anti-Qatar di Barat.”

“Qatar terus menyerukan dialog meski melanggar undang-undang dan peraturan internasional, terlepas dari pemisahan 12.000 keluarga, meskipun pengepungan tersebut merupakan tindak agresi yang jelas dan penghinaan terhadap semua perjanjian, badan dan yurisdiksi internasional,” ujarnya.

Al Thani mencatat bahwa negara-negara yang terlibat dalam perpecahan diplomatik dengan Qatar “menuntut agar kita harus menyerahkan kedaulatan kita untuk mengakhiri pengepungan, sesuatu yang … Qatar tidak akan pernah melakukannya.” (Baca: Qatar Pertegas Jalin Kerjasama dengan Iran Pasca Ditendang 4 Negara Teluk)

Menteri Qatar mengatakan bahwa dia melihat sedikit kemungkinan rekonsiliasi yang cepat, bahwa Doha sedang mempersiapkan perpecahan diplomatik yang lebih luas.

“Apa yang telah kita lakukan dalam beberapa minggu terakhir adalah mengembangkan alternatif yang berbeda untuk memastikan rantai pasokan agar negara tidak terputus,” katanya.

Qatar abaikan tuntutan Saudi

Sementara itu, empat negara Arab yang ingin mengisolasi Qatar mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tanggapan Doha terhadap tuntutan mereka untuk mengakhiri krisis diplomatik Teluk Persia “tidak serius.”

Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shukri mengatakan kepada wartawan pada sebuah konferensi pers bersama di Kairo bahwa tanggapan Qatar “umumnya negatif,” menggambarkannya sebagai “posisi yang mencerminkan kegagalan untuk menyadari gravitasi situasi.”

Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir menyatakan bahwa pemboikotan Qatar akan berlanjut sampai kerajaan Teluk Persia mengubah kebijakannya sesuai dengan tintutan Riyadh.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Bahrain semuanya memutus hubungan diplomatik dengan Qatar pada 5 Juni, setelah secara resmi menuduhnya mensponsori terorisme.

Kementerian Luar Negeri Qatar mengumumkan bahwa keputusan untuk memutuskan hubungan diplomatik tidak dapat dibenarkan dan berdasarkan klaim dan asumsi palsu.

Pada tanggal 9 Juni, Qatar dengan tegas menolak tuduhan mendukung terorisme setelah rezim Saudi dan sekutu-sekutunya memasukkan daftar hitam lusinan individu dan entitas yang konon berasosiasi dengan Doha.

Pada tanggal 23 Juni, Arab Saudi dan sekutu-sekutunya merilis daftar tuntutan 13 poin, termasuk pemutusan hubungan Qatar dengan gerakan perlawanan Ikhwanul Muslimin dan Hizbullah Lebanon.

Qatar juga harus membayar jumlah yang tidak ditentukan sebagai kompensasi ke empat negara Arab karena “hilangnya nyawa dan kerugian finansial lainnya yang disebabkan oleh kebijakan Doha.”

Negara-negara tersebut memberi Qatar 10 hari untuk memenuhi semua tuntutan. Batas waktu itu telah berakhir pada Rabu dini hari. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: