Fokus

5 Step Kelompok Radikal dan HTI Hancurkan Sebuah Negara

Minggu, 28 Mei 2017 – 19.34 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Mata Najwa “Paham radikal ekstrem menjadi sorotan, di tengah negara yang dirundung ancaman perpecahan. Presiden turun tangan sedikit meradang, ormas anti-Pancasila akan digebuk dan ditendang. Radikalisme dianggap sudah mengancam keutuhan negara dan kebinekaan. Kampus dan sekolah tersusupi paham radikal, agama dikembangkan untuk mengkafirkan, menyesatkan“. (Baca: Denny Siregar: Jokowi Geram, Para Mafia & Kelompok Radikal Ancam NKRI)

Inilah lima step Strategi kelompok radikal yang ingin menghancurkan sebuah negara.

STEP 1. Hancurkan perekonomian negara itu, anjlokkan nilai tukar uangnya, ciptakan krisis produksi sehingga rakyat kesulitan mendapatkan barang-barang kebutuhan pokok.

STEP 2. Buat rakyat benci presidennya.

STEP 3. Picu demonstrasi yang berujung rusuh di mana-mana.

STEP 4. Biayai gerakan anti-pemerintah sehingga terjadi konflik horizontal dan perang sipil.

STEP 5. Setelah pemerintahan yang sah jatuh, naikkan pemerintahan boneka sehingga “para dalang” akhirnya bisa menguasai aset-aset negara.

Tunisia, Libya, Iraq terlanjur sampai STEP 5. Suriah baru sampai STEP 4, namun Iran dan Rusia turun tangan sehingga negara itu terselamatkan. (Baca: Kelompok Radikal “Rampok Kampus-kampus Sekuler” di Indonesia)

STEP 1 tidak akan bisa dijalankan di Indonesia karena Presiden Jokowi gencar menegakkan kedaulatan ekonomi dengan mensejahterakan rakyat melalui pembangunan infrastruktur di mana-mana (salah satunya kini harga-harga bisa di Papua sama dengan di Jakarta). Maka mereka berusaha menjalankan STEP 2 dengan menebarkan kebencian terhadap “rezim pelindung penista agama”.

Ayo kita waspada supaya jangan sampai lanjut ke STEP 3, highly recommended nonton siaran ulang Mata Najwa yang mengundang Gus Tutut, Cak Imin, Ketua BNPT dan tiga orang menteri…sekarang di Metro TV.

#####

Menteri Agama RI, Lukman Hakim: Hizbut Tahrir Indonesia ternyata punya agenda politik mengganti republik menjadi kekhalifahan bukan hanya ormas keagamaan. Berdirinya kekhalifahan (di Indonesia) adalah utopia.

Mendagri, Tjahjo Kumolo: Bahkan ada mantan menteri yang komisaris BUMN yang menjadi pendukung HTI (lalu Najwa memutarkan jelas Adhyaksa Dault menyatakan “khilafah akan berdiri, saya setuju”).

Menristekdikti, Mohamad Nasir: Posisi rektor di kampus adalah yang dominan di kampus, harus bertanggung jawab menangkal radikalisme di kalangan mahasiswa. Najwa memutarkan video “Sumpah Mahasiswa” di IPB (isinya mereka “akan berjuang menegakkan Syariah Islam dalam naungan Negara Khalifah Islamiyah”), rektornya akan diberikan sanksi. Ada dosen di PTS yang simpatisan ISIS lalu akan dijadikan dekan dengan plotting menjadi rektor sehingga langsung diberhentikan dan dilaporkan ke BNPT.

Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar: Hizbut itu artinya “partai”, jadi sudah menyalahi karena tidak pernah melaporkannya sebagai partai kepada pemerintah. Hadist yang dikutip Adhyaksa Dault bahwa “akan berdiri khalifah” itu dhaif.

Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas: NKRI adalah bentuk final, hasil perjuangan kyai-kyai NU. Jadi (bagi warga NU) menjaga NKRI adalah menjaga warisan para kyai. Kalau Hizbut Tahrir menolak sistem demokrasi tapi menginginkan kekuasaan, berarti mereka akan makar. (Baca: WOW! Ansor Siap Head To Head Hadapi Kelompok Radikal dan Intoleran)

Ketua BNPT, Suhardi Alius: Dakwah (HTI) itu ternyata menginspirasi orang melakukan kekerasan. Mereka merasa paling paham sehingga merasa punya otoritas menghakimi orang yang berbeda paham.

Peneliti LIPI: Doktrinasi tapal kuda (supressive ideology) membuat mereka buta sejarah. Buku-buku Gus Dur, KH Quraish Shihab (dll ulama nasionalis) mereka haramkan. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Lulus Suprapto dan Metro Tv

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: