Headline News

3 Alasan AS Berkerjasama dengan Rusia

Jum’at, 17 Maret 2017 – 07.23 Wib

SALAFYNEWS.COM, MANBIJ – Amerika Serikat di bawah kendali Presiden Donald Trump banyak terlibat dalam perang Suriah, dengan beberapa perbedaan mendasar dari sikap politik Washington saat kepemimpinan Barack Obama, yang dianggap memiliki banyak keraguan, dan kurangnya inisiatif serta tidak mampu menanggapi sikap pendapat sekutu negara-negara Teluk dan Eropa dalam upaya menggulingkan Presiden Suriah Bashar Assad.

Obama sebelumnya bekerjasama dengan Turki, Arab Saudi dan Qatar yang berkontribusi terhadap pertumbuhan kelompok teroris ISIS, yang tidak memungkinkannya mengambil kendali dari sebagian besar wilayah Irak dan Suriah selama empat tahun terakhir.

Pemerintahan Trump memberikan sinyal yang jelas bahwa ia akan mengambil kebijakan yang berbeda di Timur Tengah, terutama di Suriah, yang hari demi hari kerjasama antara Rusia dan Amerika semakin erat, kerjasama tersebut terealisasi dalam tiga poin penting:

Pertama, Trump menolak prasyarat yang ditetapkan oleh Turki selama pertemuan NATO pada bulan lalu, yang menyerukan Washington untuk menghentikan dukungan terhadap milisi Kurdi. Trump justru mengirim pasukan ke kota Manbij untuk mencegah serangan Turki. Sebagaimana yang dikatakan sumber Pentagon, seperti yang terlihat  tank-tank AS dengan benderanya yang berkibar diatas tank bergerak di jalan-jalan kota Manbij, Suriah.

Kedua, Pentagon telah menyatakan setuju dengan kesepakatan antara pemerintah Suriah dan suku Kurdi Suriah yang berada dalam jaminan Rusia, di mana tentara Suriah menempati garis depan antara kota Manbij dan pasukan Dar’ Efrat. Dengan demikian sempurnalah pemotongan jalur menuju Raqqa bagi pasukan Turki dan sekutunya di Dar’ Efrat. Amerika Serikat yang ada di Manbij mengumumkan bahwa konvoi bantuan kemanusiaan yang dikirim oleh Rusia ke penduduk Manbij, telah berkoordinasi dengan pasuakn AS di kota itu.

Ketiga, Pemerintahan Trump berlepas diri dari proyek-proyek Obama, baik yang rahasia maupun terbuka untuk mengubah pemerintahan Suriah, dan perang ini dianggap sebagai prioritas AS. Perang ini memerlukan kerjasama Rusia dengan Amerika Serikat, terutama ketika pecahnya pertempuran di Raqqa yang akan menjadi perang terberat dan paling berdarah, dimana pasukan AS akan berjuang di tanah tersebut dengan membutuhkan semua bantuan sebisa mungkin, dan bantuan Rusia adalah yang terbesar dan paling penting dalam pertempuran Raqqa.

Dalam hal ini, Trump akan mengandalkan Jenderal James Mattis, yang memiliki efek mendalam pada kerjasama antara AS dan Rusia di Afghanistan setelah Suriah, seiring deklarasi Washington yang menyatakan keinginannya untuk memperkuat keberadaannya di Afghanistan dalam memerangi kelompok teror Taliban.

Dalam konteks ini, pemerintahan Trump telah berkontribusi dalam mencegah pasukan Turki dari memasuki Manbij, dengan mengembargo Turki di kota Al-Bab. Namun ia tidak menyingkirkan penghalang yang dibuat oleh Rusia untuk tentara Suriah agar maju dari bandara Kuwairis menuju pinggiran Efrat, dan dari sana bergerak ke  Bandara Jara.

Oleh karena itu, tentara Turki dan pasukan FSA yang didukungnya terjebak di kota Al Bab. Akibatnya menghilangkan mimpi Turki untuk maju ke arah timur dan memasuki kota Raqqah, ibukota ISIS di Suriah. Dengan demikian, akhirnya Turki menyepakati perjanjian  dengan Rusia, dimana Turki terpaksa memerangi ISIS di kota Al Bab, dan berhenti mendukung mereka. (SFA)

Sumber: MNR

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: